Lokalpress.id, Yogyakarta – Tahun 2025 menandai babak baru dalam lanskap global. Dunia kian menjauh dari dominasi satu kutub kekuatan. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia terus bersaing mempertahankan pengaruh, sementara kekuatan regional seperti Uni Eropa, India, dan negara-negara Timur Tengah mulai mengambil peran lebih strategis dalam percaturan geopolitik dunia. Namun, stabilitas global masih jauh dari kata aman. Perang yang belum usai di Ukraina, ketegangan di Laut Cina Selatan, dan konflik Palestina yang terus menyala menjadi pengingat bahwa perdamaian dunia masih rapuh. Di saat yang sama, dunia dibayangi krisis energi, kelangkaan pangan, dan ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Di medan yang tak kalah penting, teknologi menjadi arena perebutan pengaruh. Artificial Intelligence, big data, dan digitalisasi global memicu perang informasi, membentuk opini publik, bahkan menentukan arah kebijakan negara. Indonesia di Titik Silang Global: Ujian Diplomasi Bebas-Aktif Sebagai anggota G20 dan pemimpin ASEAN, Indonesia berada di persimpangan penting. Warisan diplomasi bebas-aktif kini diuji relevansinya: mampukah tetap menjadi prinsip penuntun, atau justru tergilas dalam tarik-menarik kepentingan kekuatan besar? Melihat Krisis Lewat Lensa Filosofi Jawa Di tengah gejolak global, sejumlah intelektual dan budayawan Indonesia menawarkan cara pandang alternatif. Krisis, menurut mereka, tak sekadar soal politik dan ekonomi. Lebih dari itu, krisis adalah gejala dari ketidakseimbangan kesadaran manusia. Filosofi Jawa menawarkan tiga nilai utama sebagai cermin kontemplatif: 1. Data Sawala – Perbedaan bukan ancaman, melainkan ruang untuk dialog dan mencari titik temu. 2. Padha Jayanya – Semua pihak hakikatnya setara. Kemenangan sejati lahir dari harmoni, bukan dominasi. 3. Mata Bathanga – Kesadaran akan keterbatasan dan kefanaan manusia. Mengajarkan rendah hati di tengah persaingan global. “Tradisi Jawa memandang krisis bukan sebagai kehancuran, melainkan sebagai jalan kolektif menuju kesadaran baru. Dunia kini sedang mengalami transmutasi: dari kesadaran berbasis kuasa menuju kesadaran berbasis harmoni.” Transformasi Paradigma: Dari Power ke Consciousness Geopolitik selama ini dibangun atas dasar kekuatan material: militer, ekonomi, dan teknologi. Namun, krisis demi krisis menunjukkan bahwa pendekatan berbasis “kekuatan keras” tak lagi cukup. Kini saatnya membangun kesadaran kolektif. Dunia membutuhkan kesadaran ekologis untuk menyelamatkan bumi, solidaritas lintas batas untuk menjawab krisis kemanusiaan, dan etika dalam menjinakkan kemajuan teknologi. Indonesia punya posisi unik. Dengan Bhinneka Tunggal Ika dan semangat gotong royong, bangsa ini bisa menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah sumber konflik, tetapi pijakan harmoni. “Indonesia bisa menjadi pusat transformasi kesadaran global. Dari Nusantara, dunia dapat belajar bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan.” Dampak Geopolitik 2025 bagi Indonesia: Ancaman dan Peluang Meski berpotensi jadi pelopor harmoni global, Indonesia tetap harus siap menghadapi sejumlah dampak serius dari gejolak geopolitik: 1. Ekonomi – Harga energi dan pangan global yang fluktuatif berpotensi menggoyang stabilitas nasional. Ketergantungan impor mesti ditekan lewat penguatan kedaulatan pangan dan energi. 2. Politik dan Keamanan – Ketegangan Laut Cina Selatan bisa menyeret Indonesia ke pusaran konflik. Dibutuhkan diplomasi yang cerdas dan presisi tinggi. 3. Sosial Budaya – Derasnya arus informasi global memicu polarisasi dalam negeri. Literasi kritis harus diperkuat agar masyarakat tak mudah terpecah oleh disinformasi. 4. Ekologi – Krisis iklim berdampak besar pada sektor pertanian dan pesisir. Solusi adaptif berbasis kearifan lokal menjadi kunci ketahanan lingkungan. Jalan Solusi: Dari Nusantara untuk Dunia Menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu mengusung pendekatan strategis dan berakar pada jati diri bangsa: Meneguhkan politik luar negeri bebas-aktif, dengan penekanan pada diplomasi moral dan kemanusiaan. Membangun ekonomi berkelanjutan berbasis ekologi dan budaya lokal, bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tapi keberlanjutan. Mempromosikan diplomasi budaya dan spiritualitas Nusantara, memperkenalkan nilai-nilai harmoni dan gotong royong ke panggung internasional. Meningkatkan kesadaran kolektif melalui pendidikan kritis, penguatan solidaritas sosial, dan revitalisasi nilai-nilai kebersamaan. Kesadaran Kolektif: Fondasi Peradaban Baru Di tengah kompleksitas geopolitik, satu pesan makin bergema: dunia membutuhkan paradigma baru. Jika abad lalu ditandai oleh perebutan kekuasaan, maka masa depan harus dibangun atas dasar kesadaran bersama. Indonesia punya peluang historis untuk menjadi pelopor. Dengan memadukan strategi geopolitik modern dan filosofi Jawa yang sarat nilai luhur, Indonesia bisa menjadi obor harmoni di tengah gelapnya persaingan global. “Indonesia tidak harus menjadi raksasa militer atau ekonomi untuk dihormati. Yang dibutuhkan dunia hari ini adalah kepemimpinan moral, spiritual, dan kultural. Dan Indonesia punya itu.” Menuju Arah Baru Peradaban: Dari Krisis ke Harmoni Peta geopolitik 2025 memang kompleks, tetapi di balik tantangan itu tersimpan peluang besar. Indonesia bisa memainkan peran sebagai penjembatan krisis dan kesadaran, sebagai bangsa yang menyatukan perbedaan, bukan membiarkannya memecah. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai data sawala, padha jayanya, dan mata bathanga, serta menerapkannya dalam kebijakan nasional dan hubungan internasional, Indonesia bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga ikut membentuk arah baru peradaban global. Penulis : Agus Budi Rachmanto, M.Sc Ilmu Hubungan Internasional UGM. Member of Asia Pacific Network of Science & Technology Centres (ASPAC).
GKR Bendara Ajak Masyarakat Jogja Hidup Sehat Lewat Road to JCWF 2025
Lokalpress.id, Yogyakarta – Road to Jogja Wellness Cultural Festival (JCWF) 2025 semakin meriah dengan gelaran Asian Sport Day 2025 yang berlangsung Minggu pagi. Rangkaian kegiatan ini menjadi ajang promosi gaya hidup sehat melalui olahraga, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, hingga masyarakat luas. Dalam kesempatan ini, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, selaku Ketua BPPD DIY sekaligus Ketua JCWF, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara yang berhasil melibatkan berbagai pihak. “Acara ini merupakan bagian dari promosi kami terkait dengan Healthy Lifestyle melalui aktivitas fisik yakni olahraga. Saya mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Hasil kolaborasi yang luar biasa baik dari pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, komunitas lingkungan, rekosistem, pokdarwis, serta berbagai komunitas olahraga,” ungkap GKR Bendara. Salah satu sorotan utama adalah lomba Spogomi, olahraga kebersihan lingkungan asal Jepang yang kini semakin populer di Indonesia. Tahun ini, pemenang Spogomi di Yogyakarta akan mewakili Indonesia di World Cup Spogomi yang digelar di Jepang pada 28–30 Oktober 2025. “Antusias peserta dalam acara ini perlu kita apresiasi. Sekaligus menjadi tanda bahwa masyarakat Jogja semakin sadar akan pentingnya kesehatan,” tambahnya. Selain Spogomi, ribuan peserta turut memeriahkan acara dengan berbagai aktivitas, mulai dari senam bersama 2000-an pelajar, Festival Olahraga Disabilitas, Tes Kebugaran Pelajar Nusantara, Pameran UMKM dan komunitas lingkungan, hingga heritage ride, lomba coswalk, dan talkshow inspiratif. Sebagai bagian dari rangkaian menuju JCWF 2025, GKR Bendara berharap semangat masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran dapat terus berlanjut. “Semangat masyarakat dalam kegiatan wellness perlu terus dijaga. Di bulan November nanti, selama satu bulan penuh akan ada berbagai acara wellness yang diinisiasi panitia JCWF. Siapapun bisa berkontribusi dan berkolaborasi bersama kami,” tuturnya menutup pernyataan. Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian pada gaya hidup sehat, Road to JCWF 2025 tidak hanya menjadi festival olahraga, tetapi juga gerakan bersama untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, peduli lingkungan, dan berdaya secara budaya.
Smelter Merah Putih: Kado Anak Bangsa Untuk Ultah Proklamasi ke-80
Lokalpress.id, Yogyakarta — Keberhasilan Ceria Corp membangun Smelter Merah Putih dengan modal murni dalam negeri (PMDN) menjadi tonggak sejarah baru bagi bangsa Indonesia. Di tengah dominasi investasi asing di sektor hilirisasi, langkah ini dimaknai sebagai kado ulang tahun bagi Ibu Pertiwi, sekaligus wujud nyata semangat berdikari. Tokoh sentral di balik proyek monumental ini adalah Atto Sakmiwata, pengusaha lokal, putra Sulawesi, yang dengan keyakinan penuh pada kemampuan anak bangsa berhasil mewujudkan mimpi besar tersebut. Smelter Merah Putih bukan sekadar fasilitas industri, tetapi simbol kemandirian ekonomi nasional yang dibangun tanpa ketergantungan pada modal asing. Keberadaan smelter ini diproyeksikan memberikan dampak besar bagi masyarakat dan perekonomian. Mulai dari pembukaan ribuan lapangan kerja baru, peningkatan nilai tambah komoditas nikel, hingga penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Langkah ini sejalan dengan idealisme Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya kedaulatan dan kemandirian bangsa dalam mengelola sumber daya alam. Pemerintah pun diharapkan lebih peduli dan memberikan prioritas pada perusahaan-perusahaan yang murni mengandalkan penanaman modal dalam negeri, seperti halnya Ceria Corp. Dengan cara itu, program hilirisasi industri benar-benar menjadi jalan menuju kemandirian bangsa, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada pihak asing. “Ini adalah perjuangan panjang. Kami adalah saksi. Kami percaya anak bangsa memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Ihwan Kadir, pemerhati masyarakat lingkar tambang, Sulawesi Tenggara. Apresiasi pun datang dari berbagai kalangan. Agus Budi Rahmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan pandangannya: “Ceria Corp adalah role model nyata. Pemerintah seharusnya lebih memberi dukungan pada perusahaan yang murni PMDN, karena inilah jalan emas menuju hilirisasi yang benar-benar memperkuat kemandirian bangsa. Smelter Merah Putih membuktikan bahwa anak bangsa bisa berdikari tanpa bergantung pada modal asing.” Dengan berdirinya Smelter Merah Putih, Indonesia mencatatkan babak baru dalam sejarah hilirisasi. Ia bukan hanya proyek industri, melainkan monumen kemandirian bangsa, simbol bahwa cita-cita berdikari yang diwariskan para pendiri republik masih terus hidup. Harapannya, langkah berani ini dapat menjadi inspirasi bagi pengusaha lokal lain untuk menapaki jalan serupa demi kejayaan Indonesia.
Gamelan Sambut Wisatawan di YIA, Yogyakarta Tegaskan Diri sebagai Kota Budaya Dunia
Lokalpress.id, Yogyakarta – Dalam balutan semangat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Yogyakarta International Airport (YIA) menjelma menjadi panggung budaya yang menggetarkan hati. Bukan dengan parade militer atau kembang api, melainkan lewat denting lembut gamelan yang mengalun syahdu dari ruang kedatangan. Di sinilah, gamelan bukan sekadar musik—ia menjadi bahasa penyambutan, jembatan antarbudaya, dan harmoni dalam arti sesungguhnya. Berjudul “Harmoni Gamelan”, kegiatan kolaboratif antara YIA dan Taman Pintar ini menjadi salah satu cara unik dan mengesankan dalam memperingati HUT RI ke-80. Tak hanya menampilkan pertunjukan, para tamu—baik yang datang maupun berangkat—diajak ikut serta dalam pertunjukan itu sendiri. Mereka diajak memainkan bendhe, salah satu alat musik dalam gamelan, yang telah diberi nomor nada, dan dipandu langsung oleh tim pemandu dari Taman Pintar. Tidak butuh latihan bertahun-tahun, hanya butuh rasa penasaran dan hati yang terbuka. Hasilnya? Sebuah gending Jawa yang tercipta dari kolaborasi lintas bangsa, lintas usia, dan lintas latar belakang. Irama yang lahir bukan hanya dari keahlian, tapi dari kebersamaan dan semangat merdeka. Dari Korea hingga Jerman: Turis Dunia Ikut Menabuh Tradisi Salah satu momen paling menyentuh datang dari rombongan wisatawan asal Korea Selatan yang baru saja mendarat. Bukannya langsung menuju hotel atau antre bagasi, mereka berhenti, tersenyum, dan tanpa ragu ikut duduk bersama, memegang bendhe, dan memukulnya sesuai arahan. Tidak sedikit dari mereka yang tertawa kecil ketika nadanya meleset, lalu mencoba lagi. Bahkan, beberapa di antara mereka dengan bangga merekam momen tersebut dan mengunggahnya di media sosial. Seorang turis asal Jerman yang baru pertama kali datang ke Yogyakarta mengatakan, “It feels so warm, so welcoming. I never imagined to be invited like this, to be part of something cultural right at the airport.” Sementara turis dari Perancis tampak bertanya-tanya tentang filosofi di balik gamelan, yang kemudian dijelaskan oleh pemandu: tentang keselarasan, gotong royong, dan irama yang tidak pernah berebut ruang—sebuah cerminan dari nilai-nilai Jawa yang dalam. Diplomasi Budaya di Ruang Transit General Manager YIA, Ruli Artha, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar atraksi, melainkan bentuk diplomasi budaya yang halus namun kuat. “YIA adalah pintu gerbang dunia ke Yogyakarta. Dengan menghadirkan gamelan sebagai penyambut pertama, kami ingin menunjukkan bahwa budaya kami hidup, ramah, dan siap menyapa siapa pun,” ujarnya. Menurutnya, program ini bukan hanya mempercantik terminal, tetapi juga memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata budaya kelas dunia. Dalam konsep place branding, ini adalah langkah cerdas: menjadikan budaya sebagai identitas dan pengalaman yang melekat sejak kaki pertama menapak di tanah Jogja. Menyemai Cinta Tradisi Sejak Dini Agus Rachmanto, pengelola Taman Pintar, menambahkan bahwa inisiatif ini juga bertujuan menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini—bukan hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi generasi muda lokal yang terlibat sebagai pemandu atau pengisi acara. “Ini adalah perayaan kemerdekaan yang menyentuh akar kita—bahwa kita merdeka bukan hanya secara politik, tetapi juga dalam menjaga, mencintai, dan membagikan budaya kita kepada dunia,” jelas Agus. Ia pun menambahkan bahwa kegiatan semacam ini idealnya menjadi agenda rutin, bukan hanya setiap 17 Agustus, tetapi sebagai wajah baru dari bandara: Gamelan di Gerbang Wisata Jogja. Ketika Bandara Menjadi Panggung, dan Gamelan Menjadi Salam “Harmoni Gamelan” di YIA bukan sekadar pertunjukan musik tradisional. Ia adalah pengingat bahwa budaya bisa hidup di mana saja—bahkan di tengah lalu lintas internasional dan deru mesin jet. Ia adalah simbol bahwa keterbukaan dan warisan tradisi bisa berjalan beriringan, bahwa menjadi Indonesia di abad ke-21 adalah soal mampu menyapa dunia tanpa kehilangan akar. “Dan bagi siapa pun yang datang atau pergi melalui Yogyakarta, alunan gamelan ini adalah salam pembuka dan penutup—yang tidak hanya terdengar, tapi terasa di hati.”Pungkas Agus
Agus Budi Rachmanto Ajak Pelaku Wisata DIY Rawat Destinasi Seperti Pohon Kehidupan
LokalPress.id, Pantai Goa Cemara, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta — Sebanyak 20 peserta dari berbagai unsur pelaku pariwisata mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Wisata yang diselenggarakan di Pantai Goa Cemara, Bantul. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Manajemen Bisnis dan Pemasaran Destinasi Wisata, dengan harapan memperkuat pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, hadir memberikan pembekalan. Dalam paparannya, ia menyampaikan filosofi menarik tentang bagaimana membangun dan merawat destinasi wisata dengan analogi pohon kehidupan. “Destinasi wisata itu ibarat pohon. Ia tidak langsung menghasilkan uang. Perlu dirawat, diberi perhatian, dan dijaga bersama. Dari akar, batang, hingga daun dan buah — semuanya satu kesatuan,” ujar Agus. Ia menekankan bahwa kerja tim (teamwork) adalah kunci utama. “TEAM adalah singkatan dari Together Everyone Achieves More — bersama, setiap orang akan mendapatkan hasil yang lebih baik,” tambahnya. Dari Akar Hingga Buah: Tahapan Membangun Destinasi Agus menjelaskan bahwa akar merupakan simbol dari cita-cita, ide, dan inovasi yang lahir dari pikiran dan visi bersama. “Akar tumbuh di tempat gelap, seperti halnya ide yang muncul dari pemikiran terdalam kita. Tanpa akar yang kuat, pohon tidak akan bisa tumbuh,” jelasnya. Batang menggambarkan struktur dan sistem koordinasi yang harus terbangun secara kokoh. Dari sana, akan tumbuh cabang, daun, dan akhirnya buah — yang merupakan simbol dari hasil pengabdian, usaha kolektif, dan pencapaian nyata. Ia juga mengingatkan bahwa buah dari kerja keras ini tidak akan muncul tanpa proses dan kesabaran. “Pertanyaannya, apakah benih yang kita tanam hari ini sudah memberikan manfaat? Itulah yang harus kita renungkan,” katanya. Kolaborasi dan Kearifan Lokal Agus menyinggung pentingnya kolaborasi dalam pengembangan pariwisata. Menurutnya, bangsa yang tidak mampu membangun kolaborasi dan sinergi hanya akan seperti pohon yang rapuh, tanpa akar dan arah. Ia juga membahas filosofi Jawa kuno “Among Tani Dagang Layar” yang diterapkan di DIY sebagai panduan dalam pengembangan sektor ekonomi, termasuk pariwisata. Filosofi ini mengajarkan harmoni antara pertanian, perdagangan, dan kelautan — sebagai pondasi pembangunan berkelanjutan. Mewarnai Keberagaman, Merawat Kebersamaan Dalam sesi akhir, Agus memberikan refleksi tentang pentingnya merawat kebersamaan di tengah keberagaman “Setiap ide, warna, dan perbedaan adalah kekayaan. Bila kita mampu mengelolanya dengan bijak, maka itu menjadi kekuatan besar yang tidak akan terkalahkan,” pungkasnya.Agus
Agus Budi Rachmanto: Membangun Kesadaran Lingkungan Melalui Integrated Eco Management
Lokalpress.id, Bantul – Dalam upaya menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, konsep Integrated Eco Management atau manajemen ekosistem terpadu mulai diterapkan di sejumlah destinasi wisata di Yogyakarta. Salah satu penggeraknya adalah Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta), yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah dan energi ramah lingkungan.Ujarnya :Rabu:13/08/2025 diDesa Wisata Krebet Pajangan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta “Untuk menghemat energi listrik, kami membagi zona wisata dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi. Ada zona pengelolaan sampah, zona edukasi pengolahan air, hingga zona taman bunga,” ungkap :Agus Salah satu inovasi menarik adalah pengolahan sampah organik yang menghasilkan kompos berkualitas dan bisa dijadikan souvenir edukatif. “Kami menggunakan Black Soldier Fly sebagai bagian dari proses daur ulang sampah organik. Dari situ kami bisa menghasilkan pupuk dan pakan ikan, yang kemudian dijual dalam bentuk kemasan unik sebagai oleh-oleh edukatif,” tambahnya. Konsep ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tapi juga mendidik masyarakat—khususnya anak-anak—untuk peduli pada lingkungan sejak dini. “Pengolahan sampah bukan hanya persoalan teknis, tapi soal kesadaran. Ini harus dimulai dari diri sendiri dan disebarkan ke masyarakat luas,” ujar Agus. Ia pun menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. “Coba lihat di kota-kota, masih banyak tumpukan sampah di tempat yang tidak semestinya. Ini mencerminkan budaya kita yang belum sepenuhnya sadar lingkungan.” Menurut Agus, falsafah Jawa pun bisa dijadikan pijakan dalam membangun kesadaran ini. “Orang Jawa bilang, resik awakmu, resik omahmu, resik kampungmu. Artinya, kebersihan diri dan rumah adalah cermin dari kesadaran yang lebih luas—termasuk kesadaran lingkungan.” Agus juga berharap ilmu dan pengalaman dari program Integrated Eco Management ini tidak berhenti di satu lokasi saja, tetapi bisa ditularkan ke komunitas lain melalui kolaborasi. “Kami ajak siapa saja yang ingin belajar. Semakin banyak yang tahu, semakin besar dampaknya,” pungkasnya. Dengan pendekatan yang tidak hanya teknis tapi juga edukatif dan budaya, Integrated Eco Management ini menjadi harapan baru bagi pengelolaan lingkungan berbasis wisata yang berkelanjutan di Indonesia.Pungkas:Agus
Transformasi Pariwisata: Kolaborasi, Makna, dan Spiritualitas Jadi Kunci Masa Depan
Lokalpress.id, Yogyakarta – Dalam acara Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Wisata yang diselenggarakan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, Agus Budi Rachmanto, menyampaikan pemikiran mendalam tentang pentingnya transformasi dan adaptasi dalam pengelolaan bisnis pariwisata saat ini.Ujarnya:Selasa:12/08/2025 : Pendopo Desa Wisata Kalakijo, Jl. Pajangan Desa Kalakijo RT 02, Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta Dalam paparannya, Agus menjelaskan bahwa dunia pariwisata kini memasuki fase baru yang disebut Transformative Tourism and System. Menurutnya, sejak tahun 2000 hingga 2020, telah terjadi pergeseran paradigma besar-besaran yang disebut sebagai transisi dari Zero Point 3 menuju Zero Point 5, yang menandai perubahan mendasar dalam cara berpikir dan bertindak dalam dunia bisnis, khususnya pariwisata. Tahun 2000 kita berada di Zero Point 3, lalu 2010 masuk ke Zero Point 4, dan sekarang di tahun 2020-an kita sudah berada di Zero Point 5. Perubahan ini bukan sekadar teknologi, tetapi cara pandang dan kesadaran kita dalam menjalankan bisnis,” jelas Agus. Dari Kompetisi ke Kolaborasi Salah satu pergeseran besar yang ditekankan Agus adalah berubahnya pola bisnis dari kompetisi menjadi kolaborasi. Jika dahulu kesuksesan bisnis ditentukan oleh siapa yang paling unggul, saat ini yang menjadi kunci adalah siapa yang paling mampu berjejaring, berkolaborasi, dan membangun relasi yang kuat. Dulu kita bersaing, sekarang kita harus bersinergi. Era keterhubungan ini menuntut kita untuk membuka diri, berintegrasi, dan bekerja bersama,” tegasnya. Contoh paling nyata dari transformasi ini adalah munculnya bisnis-bisnis berbasis platform seperti Gojek dan Traveloka. Mereka tidak memiliki aset fisik seperti pabrik atau hotel, namun mampu menguasai pasar melalui kekuatan jaringan, teknologi, dan nilai tambah yang mereka tawarkan. Era Keterhubungan dan Energi Agus juga menyoroti bagaimana era digital telah membawa manusia pada fase everything connected, di mana semua hal terhubung melalui teknologi. Namun, menurutnya, keterhubungan bukan hanya antar perangkat, melainkan juga antar manusia dan nilai-nilai spiritual. Hari ini bukan hanya produk yang dijual, tapi energi dan cerita di baliknya. Semakin kita mampu menyampaikan nilai, cerita, dan pengalaman kepada wisatawan, semakin kuat daya tarik destinasi kita,” ujarnya. Dalam bisnis pariwisata, pengalaman (experience) menjadi kunci. Wisatawan tidak hanya ingin melihat tempat, tapi juga merasakan makna dan keterlibatan emosional. Inilah yang membedakan antara produk biasa dan meaningful experience. Perlu Integrasi antara Materi dan Spirit Lebih jauh, Agus mengajak seluruh pelaku pariwisata untuk menggabungkan aspek materi dan non-materi, antara ilmu pengetahuan (science) dan spiritualitas. Kalau kita hanya fokus pada materi, kita akan bekerja keras. Tapi jika kita paham dan mengelola energi serta nilai-nilai spiritual, kita bisa bekerja dengan lebih cerdas dan bermakna,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa saat ini bukan saatnya lagi bersaing secara egois, melainkan saatnya untuk menyatu dalam visi bersama, menghilangkan kepentingan pribadi, dan membangun ekosistem yang saling mendukung Setiap fase akan membawa tantangan dan peluang. Jangan abaikan perubahan ini, karena jika kita tidak berubah, kita akan tertinggal,” Papar:Agus Acara ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi menjadi panggung refleksi bagi pelaku pariwisata untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan. Transformasi bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal cara berpikir, merasa, dan bertindak. Pariwisata masa depan adalah tentang keterlibatan, makna, kolaborasi, dan kesadaran spiritual.Pungkas:Agus
GKR Bendara: Jogja Cultural Wellness Festival 2025, Perpaduan Budaya, Healing, dan Pariwisata Berkelanjutan
Lokalpress.id, Yogyakarta — Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi pariwisata Indonesia melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025, sebuah perhelatan yang menyatukan konsep kesehatan holistik (wellness), kekayaan budaya, serta gerakan komunitas lokal. Festival yang akan berlangsung sepanjang November 2025 ini diinisiasi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY sekaligus Putri Keraton Yogyakarta, dengan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tidak hanya menjadi ajang hiburan, JCWF hadir sebagai strategi kebudayaan yang menempatkan wellness sebagai bagian dari identitas baru pariwisata Yogyakarta. Gerakan Akar Rumput yang Mendunia GKR Bendara menjelaskan bahwa ide JCWF berangkat dari realitas yang ia temukan dua tahun lalu. “Saya terkejut, ternyata komunitas wellness di Jogja sangat banyak. Tapi sayangnya, mereka belum terkoneksi dengan industri pariwisata,” ujarnya saat konferensi pers di Ndalem Poenakawan, Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 71, Yogyakarta. Menurutnya, festival ini bukan program yang dibuat dari atas ke bawah, melainkan gerakan yang tumbuh dari energi komunitas. “Kami ingin menampilkan kekuatan masyarakat, bukan hanya budaya Keraton. Harapannya, festival ini bisa memperpanjang masa tinggal wisatawan dan memberi warna baru bagi pariwisata Indonesia,” tambahnya. Program Tematik yang Berlapis JCWF 2025 mengusung konsep Tematik Weekend, di mana setiap Sabtu dan Minggu terakhir di bulan November akan diisi dengan ragam kegiatan yang mempertemukan dimensi kesehatan fisik, mental, dan spiritual: Workshop & Mini Class — Belajar budaya, mental health, serta prinsip keberlanjutan langsung dari praktisi dan narasumber berpengalaman. Travel Healing Space — Terapi penyembuhan, meditasi terpandu, dan sesi relaksasi untuk pengunjung. Marketplace Komunitas — Produk UMKM lokal, kuliner sehat, kerajinan tangan, dan ramuan herbal tradisional. Instalasi Seni & Musik — Kolaborasi seniman lokal dan internasional menciptakan ruang interaksi artistik. Tiket Masuk Bernilai Lingkungan Salah satu terobosan unik JCWF adalah sistem tiket masuk non-uang. Tahun lalu, pengunjung dapat masuk dengan menukarkan 7 botol plastik bersih, dan skema ini akan kembali diberlakukan. Inovasi ini bukan sekadar gimmick, tetapi simbol nyata komitmen festival terhadap keberlanjutan lingkungan dan circular economy. Kolaborasi Lintas Wilayah Tahun ini, JCWF masuk dalam kalender resmi Wonderful Indonesia dan akan menjadi ruang kolaborasi antara Keraton Yogyakarta, Keraton Solo, pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku industri pariwisata. Dukungan lintas sektor ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat gerakan wellness nasional, dengan visi jangka panjang untuk menjadi destinasi berkelas dunia. Puncak Festival dan Hari Wellness Nasional Puncak festival akan berlangsung pada 1 November 2025, yang sekaligus akan ditetapkan sebagai Hari Wellness Nasional. Penetapan ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri wellness di Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional. “Kami ingin dunia mengenal Jogja bukan hanya karena Candi Prambanan atau gudeg, tapi juga sebagai tempat penyembuhan yang sesungguhnya — bagi tubuh dan jiwa,” pungkas GKR Bendara, Ketua BPPD DIY.
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam: Rakernas JKPI 2025 Jadi Momentum Merawat Warisan Budaya Nusantara
Lokalpress.id, Yogyakarta — Dalam suasana yang hangat dan penuh makna, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam (Gusti Putri) menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025, yang berlangsung di Yogyakarta dan dihadiri oleh 56 bupati dan wali kota dari berbagai penjuru Nusantara. “Saya merasa sangat senang dan mendukung penuh terselenggaranya Rakernas ini. Ini bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi momen penting untuk menyatukan komitmen bersama dalam merawat pusaka budaya kita,” ungkap Gusti Putri. Sebagai tuan rumah, Yogyakarta tampil bukan hanya sebagai lokasi pelaksanaan acara, melainkan sebagai simbol hidup kota pusaka yang terus berdenyut dengan nilai-nilai warisan leluhur. “Yogyakarta adalah kota peradaban. Warisan budaya di sini hidup berdampingan dengan masyarakatnya. Ini yang harus kita rawat dan teruskan,” tambah beliau. Dalam sesi wawancara, Gusti Putri menegaskan posisi Yogyakarta sebagai kota heritage yang memiliki kekayaan adat, tradisi, dan filosofi hidup yang mendalam. “Warisan seperti ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Perlu pendampingan yang aktif—baik dari pemerintah, komunitas, maupun generasi muda,” tuturnya. Sebagai bagian dari dukungan dan partisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan JKPI, Gusti Putri turut menghadiri “Pasar Malam Indonesia” yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Kehadiran beliau menjadi simbol penting atas dukungan terhadap aktivitas budaya rakyat yang hidup dan membumi. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena di sinilah denyut kebudayaan itu terasa nyata—hidup dalam suasana yang akrab, hangat, dan menyatu dengan masyarakat,” ungkapnya saat berkeliling area pasar malam. Menurut beliau, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi atau acara seremoni, tetapi harus menyentuh kehidupan sehari-hari. “Budaya harus diuri-uri, dikembangkan, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Itu kuncinya,” ujar Gusti Putri. Rakernas JKPI 2025 ini, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa kota-kota pusaka di seluruh Indonesia memerlukan semangat kolektif untuk menjaga identitas dan nilai-nilai luhur yang diwariskan. “Kita semua, dari Sabang sampai Merauke, harus bersama-sama punya semangat untuk merawat kota-kota pusaka. Ini bukan tugas satu dua orang, tapi tanggung jawab kita bersama.” Menutup pernyataannya, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam menyampaikan harapan agar Rakernas JKPI 2025 menjadi pijakan strategis untuk arah pelestarian kota pusaka ke depan. “Semoga acara ini membawa semangat baru dan memperkuat kesadaran kita terhadap pentingnya menjaga warisan budaya yang kita miliki,” pungkasnya.
Nang, Neng, Nong: Harmoni Gamelan dan Kebersamaan dalam Nada Gundul-Gundul Pacul
Lokalpress.id, Yogyakarta — Suara lembut namun berwibawa menggema di Ballroom Hotel Tentrem, saat nada Nang, Neng, Nong dari gamelan tradisional Jawa mengalun menyambut kehadiran 56 bupati dan wali kota dari seluruh Indonesia dalam acara Welcome Dinner Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia 2025. Nada-nada sederhana itu bukan sekadar musik. Mereka adalah bahasa budaya, penuh filosofi, menyuarakan nilai keselarasan, kebersamaan, dan kepemimpinan yang membumi. Pertunjukan gamelan ini menjadi semakin bermakna karena diorkestrasi oleh Agus Budi Rahmanto, pengelola Taman Budaya Embung Giwangan, yang dengan sentuhan kuratorialnya menghadirkan suasana yang menyatukan rasa, tradisi, dan visi kepemimpinan masa depan. Saat Ditemui Setelah acara, Agus menjelaskan tentang Makna “Nang, Neng, Nong” dalam Harmoni Jawa Dalam gamelan Jawa, suara nang, neng, nong bukan hanya bunyi; ia adalah pola ritmis yang mewakili keseimbangan antara gerak, rasa, dan hening. Nada-nada itu mengajarkan: Nang: isyarat awal — niat baik memulai sesuatu Neng: titik tengah — saat kita hadir dan selaras Nong: penutup yang memberi arah — bijak dalam menyelesaikan “Nada-nada itu seperti dialog diam antar jiwa, menyatukan yang beragam dalam satu irama.” Kata Agus Rahman Gundul-Gundul Pacul: Kritik Lembut untuk Pemimpin Dalam sesi pertunjukan gamelan, lagu Gundul-Gundul Pacul dimainkan bersama 56 bupati dan wali kota peserta Rakernas sebagai refleksi. Lagu dolanan ini dipilih bukan tanpa makna. Gundul berarti kepala tanpa mahkota — pemimpin yang rendah hati. Pacul adalah cangkul — simbol kerja dan pengabdian. Gembelengan adalah peringatan — pemimpin yang sombong akan jatuh. Segane dadi sak latar — rakyat jadi korban saat pemimpin lalai. “Lagu ini menyuarakan falsafah Jawa tentang kepemimpinan yang tidak boleh berlebihan, harus mengakar pada rakyat, dan selalu mengingat tanggung jawab yang diemban.” Tambahnya Nada Kebersamaan dalam Kota Pusaka Melalui iringan gamelan yang halus dan filosofis, para kepala daerah diajak untuk merenungkan nilai-nilai kepemimpinan: Bahwa menjadi pemimpin bukan soal mahkota, tapi tentang mengayomi dan mengayun langkah bersama rakyat. “Nada “nang, neng, nong” menjadi pengingat lembut, bahwa dalam keragaman kota-kota di Indonesia, yang paling penting adalah keselarasan dan rasa saling melengkapi, seperti gamelan yang tidak bekerja dalam solo, tapi dalam harmoni.” Pungkasnya. Di tengah jamuan dan kebersamaan malam itu, Yogyakarta tidak hanya menyuguhkan makanan — tapi juga rasa, falsafah, dan nada. Sebuah pembuka yang indah untuk Rakernas, tempat kota-kota di seluruh Indonesia bertemu dalam semangat pusaka, budaya, dan kebersamaan, yang selaras dalam nada… nang, neng, nong.