Lokalpress.id, Yogyakarta – Kota Yogyakarta kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota budaya yang tak hanya hidup dalam narasi sejarah, namun juga tumbuh dalam semangat zaman. Pada Minggu, 24 Agustus 2025 mendatang, Alun-alun Kidul akan menjadi panggung bagi sebuah gerakan yang sederhana namun sarat makna: Japan Foundation Spogomi World Cup 2025 Indonesia Qualifier. Sebuah kompetisi kebersihan yang telah berkembang menjadi simbol kepedulian global terhadap lingkungan, sekaligus daya tarik pariwisata yang segar dan inspiratif. Acara ini merupakan bagian dari Road to Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF), yang diprakarsai oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui festival ini, Yogyakarta mengajak masyarakat dan wisatawan untuk menengok kembali nilai-nilai dasar yang membentuk keindahan sebuah kota: kebersihan, kebersamaan, dan kesadaran ekologis. Kebersihan lingkungan adalah fondasi dari pariwisata berkelanjutan. Spogomi bukan hanya tentang memungut sampah, tapi soal membangun kesadaran bersama dalam menjaga bumi dan memperkuat citra Jogja sebagai destinasi wellness yang holistik,:Tutur:GKR Bendara:Sabtu:02/08/2025 Mengangkat Sampah Menjadi Simbol Keberadaban Nama “Spogomi” berasal dari gabungan kata “sport” dan “gomi” (bahasa Jepang untuk ‘sampah’). Di balik kompetisi ini, tersimpan filosofi mendalam: bahwa tindakan sekecil memungut sampah adalah bentuk cinta kepada bumi, dan cinta itu layak dirayakan dalam sebuah festival. Para peserta akan beradu kecepatan dan ketelitian dalam mengumpulkan serta memilah sampah di ruang publik, mengubah kegiatan yang dulu dianggap remeh menjadi ajang prestisius bertaraf internasional. Pemenang dari tahap kualifikasi ini akan mewakili Indonesia dalam ajang Spogomi World Cup 2025 di Jepang, yang akan digelar pada 27–31 Oktober mendatang. Dukungan juga datang dari Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), yang melihat kegiatan ini sejalan dengan Gerakan Merdeka Sampah dan misi JCWF untuk mengangkat tujuh dimensi wellness, salah satunya dimensi lingkungan. Apa yang kita buang, mencerminkan cara kita memandang dunia. Maka menjaga kebersihan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bentuk dari peradaban,” ujarnya. Dari Festival Sampah ke Festival Kehidupan Spogomi bukanlah acara tunggal. Di bawah naungan Road to JCWF, masyarakat akan diajak untuk merayakan kehidupan dalam segala bentuknya—dari gerakan fisik hingga spiritualitas ekologis. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum dan dirancang sebagai ajang inklusif bagi semua kalangan. Rangkaian kegiatan mencakup: Senam Massal bersama ribuan pelajar DIY, membangun energi positif sejak pagi Kompetisi Coswalk dari komunitas pencinta budaya Jepang Heritage Ride mengelilingi Kotagede & Sumbu Filosofi, menyusuri warisan peradaban Bazar UMKM lokal, mengangkat produk khas Jogja sebagai kekayaan identitas daerah Festival Olahraga ASEAN & peringatan ASEAN Sports Day Pameran komunitas lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah Doorprize & hiburan rakyat, memperkuat ikatan sosial dan kebahagiaan bersama Mengajak Semua Turut Hadir dan Bergerak Kegiatan ini adalah kesempatan untuk berkumpul, berbagi, dan bergerak bersama dalam satu semangat: menjaga bumi sambil menikmati kehidupan. Dengan mengikuti acara ini, masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam lomba, namun turut mengukir perubahan. Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang datang dan menikmati, tetapi juga tentang memberi makna dan meninggalkan jejak kebaikan. Bagi Anda yang rindu akan bentuk pariwisata yang menyentuh hati dan menyegarkan jiwa, ini adalah momen yang tidak boleh dilewatkan. Ajak keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Mari kita berkumpul, bergembira, dan bersama-sama menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan kecil untuk bumi adalah bentuk penghormatan pada kehidupan itu sendiri. 📞 Informasi & Pendaftaran: Sekretariat JCWF WhatsApp: +62 896-1951-1169 / +62 811-2552-008 Email: bppd.diy@gmail.com Alamat: TIC, Jl. Malioboro No.16, Kota Yogyakarta “Kita mungkin tidak bisa membersihkan dunia dalam sehari, tapi kita bisa memulai hari ini, dengan satu langkah, satu tindakan, dan satu semangat bersama.” Pungkas Hasto.
RAKERDA DPD GIPI DIY 2025 Tekankan Sinkronisasi Program dan Nilai Kolektif Melalui Filosofi Sebatang Pohon
Rapat Kerja Daerah (RAKERDA) Dewan Pengurus Daerah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (DPD GIPI DIY) tahun 2025 berlangsung dalam suasana yang penuh refleksi dan semangat kolaboratif. Dengan mengusung semangat “Sinkronisasi, Finalisasi, dan Komitmen Bersama”, kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta ini menjadi momentum penting dalam mengonsolidasikan arah kerja lintas bidang demi kemajuan industri pariwisata yang lebih terpadu dan berdampak. Dalam sebuah percakapan reflektif, Agus Budi Rahman Selaku Ketua Presidum Sidang RAKERDA mengatakan perumpamaan yang menggugah: organisasi ibarat sebatang pohon. Perumpamaan ini bukan sekadar simbolis, melainkan dijadikan filosofi kerja dan bingkai berpikir dalam seluruh proses RAKERDA.Kamis:31/07/2025 Akar adalah nilai, visi, dan komitmen kita bersama. Batang adalah sistem dan struktur organisasi yang menopang dan menyalurkan energi kerja. Dan buah adalah hasil nyata dari sinergi kita—berupa kontribusi ke masyarakat, penguatan sektor pariwisata, serta kesejahteraan anggota,” ungkap pimpinan sidang dengan nada reflektif. Sinkronisasi sebagai Napas Organisasi RAKERDA DPD GIPI DIY, 2025 kali ini secara khusus memfokuskan diri pada proses sinkronisasi lintas program dan bidang, yang selama ini kerap menjadi tantangan internal organisasi. Melalui forum ini, seluruh perwakilan bidang duduk bersama dalam suasana terbuka untuk menyamakan arah, menurunkan ego sektoral, dan memperkuat peran kolektif. Kita ingin memastikan bahwa program-program yang dihasilkan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan seperti sistem akar yang menyatu, batang yang kokoh, dan buah yang tumbuh dari harmoni,” ujar salah satu peserta yang mewakili bidang event dan promosi. Ditekankan pula bahwa sinkronisasi bukan sekadar soal teknis atau agenda, melainkan kesadaran bersama bahwa setiap bidang merupakan bagian dari satu tubuh besar. Jika satu bagian tumbuh sendiri tanpa mempertimbangkan keseimbangan, maka keseluruhan struktur bisa oleng. Dari Nilai ke Aksi: Organisasi sebagai Ekosistem Hidup Selama sesi pleno, semangat filosofi pohon terus digaungkan. Tidak hanya sebagai metafora, namun sebagai prinsip dasar organisasi modern: berakar kuat dalam nilai, bertumbuh dalam sistem yang sehat, dan berbuah dalam kontribusi nyata. Organisasi ini bukan hanya tentang siapa yang membuat program terbanyak, tapi siapa yang mampu menjalin kerja sama yang menghasilkan dampak kolektif. Kita tidak berlomba menjulang sendiri, tapi saling menopang agar kita semua bisa tumbuh bersama,” tegas Ketua Presidum Sidang, Agus Budi Rahman Lebih jauh, para peserta RAKERDA juga diajak merefleksikan pentingnya perawatan organisasi seperti halnya pohon: dibutuhkan perawatan, pemangkasan, penguatan akar, serta pengawasan terhadap hama—dalam konteks organisasi, itu berarti evaluasi, pembinaan nilai, serta keterbukaan terhadap kritik. Hasil RAKERDA dan Harapan Ke Depan RAKERDA 2025 berhasil menyepakati sejumlah program kerja unggulan lintas bidang, mulai dari penguatan promosi destinasi, pengembangan SDM pariwisata, sinergi event, hingga kolaborasi dengan stakeholder eksternal. Semua program tersebut telah melewati proses finalisasi dan sinkronisasi, memastikan tidak ada tumpang tindih, dan bahwa masing-masing bidang memahami peran serta saling dukung. Sebagai penutup, pimpinan sidang kembali menekankan bahwa organisasi ini hanya akan tumbuh sehat jika seluruh unsur di dalamnya—dari akar hingga buah—berjalan seimbang, saling menopang, dan tumbuh dalam semangat keikhlasan serta tujuan bersama. Jika akar kita adalah nilai dan kebersamaan, batangnya adalah struktur dan komunikasi yang sehat, maka buah yang akan kita hasilkan bukan hanya untuk kita nikmati, tapi akan memberi manfaat bagi ekosistem pariwisata yang lebih luas,Paparnya Dengan berakhirnya RAKERDA 2025 ini, DPD GIPI DIY tidak hanya menghasilkan dokumen program kerja, tetapi juga mengukuhkan kembali jati diri organisasi sebagai wadah kolaboratif yang hidup, dinamis, dan berakar kuat pada nilai-nilai persatuan dan kebermanfaatan bersama, Pungkas Agus
Jathilan di Era Digital: Ketika Anak Z Menemukan Akar Budaya Lewat Gawai
Lokalpress.id, Yogyakarta — Dalam sebuah momen ” Sambung Rasa’ namun menggugah, GKR Bendara berbagi kisah tentang bagaimana budaya tradisional justru menemukan napas baru di tengah generasi digital. Cerita itu disampaikan dalam acara Rapat Koordinasi dan Penandatanganan Komitmen Pengembangan Kepariwisataan DIY, yang digelar:Selasa:29/07/2025 di Bangsal Mataram, Lantai 2, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Sebuah forum strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya. “Saya pernah heran,” tutur GKR Bendara. “Ada anak muda, bahkan generasi Z, yang setiap Sabtu malam jam 10 setia menonton pertunjukan jathilan, bukan di alun-alun atau lapangan desa, tapi lewat siaran langsung di YouTube.” Yang membuat cerita ini semakin menyentuh, ternyata penonton setia itu adalah anak beliau sendiri. “Dan lucunya, untuk ulang tahunnya bulan September nanti, ia justru meminta hadiah yang tak biasa: dia ingin menonton jathilan secara langsung,” kenang beliau sambil tersenyum. Cerita ini bukan sekadar kisah keluarga. Ia mencerminkan pergeseran cara generasi muda berinteraksi dengan budaya. Di balik gemerlap teknologi dan globalisasi, masih ada ruang batin yang merindukan akar, identitas, dan pengalaman lokal yang otentik. Jathilan, sebagai bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta, menemukan jalannya kembali ke hati generasi digital, asal diberi ruang tampil yang relevan. Dalam kesempatan itu, GKR Bendara juga mengapresiasi sinergi yang terus dibangun antara DPD RI, Bank Indonesia DIY, Dinas Pariwisata DIY, dan GIPI DIY. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menurutnya menjadi kunci keberhasilan pengembangan kepariwisataan yang berkelanjutan dan berakar pada budaya. “Semangat teman-teman semua di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif sangat luar biasa. Ini adalah gerak bersama untuk menjadikan Yogyakarta tak hanya dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, tapi juga sebagai rumah bagi generasi muda yang mencintai akarnya,”Pungkas:GKR Bendara
Srawung dan Berdaya di Pasar Minggu TBEG, Ikon Baru Ruang Publik Yogyakarta
Yogyakarta kembali menegaskan dirinya sebagai kota budaya yang hidup. Lewat Pasar Minggu di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), ruang publik disulap jadi tempat srawung, dagang, hingga pentas seni yang menghidupkan ekonomi dan kebersamaan. Lokalpress.id, Yogyakarta, 27 Juli 2025 — Di tengah ritme kota yang serba cepat, hadir ruang yang memberi napas baru bagi warga: Pasar Minggu TBEG di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG). Lebih dari sekadar ruang transaksi, pasar ini menjelma menjadi ruang hidup untuk interaksi sosial, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi rakyat. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, didampingi Wakil Wali Kota Wawan Harmawan, secara resmi membuka kegiatan ini yang akan digelar rutin setiap Minggu pagi. Kegiatan ini menyajikan berbagai aktivitas mulai dari senam bersama, pertunjukan seni, layanan cek kesehatan gratis, hingga lebih dari 50 stand UMKM yang menampilkan produk kuliner, kerajinan, fashion, hingga tanaman hias. Menurut Agus Budi Rachman, Sekjen DPD PUTRI DIY, konsep utama pasar ini adalah “srawung dagang, srawung krida, srawung budaya”. Tiga pilar ini mencerminkan arah baru dalam pengelolaan ruang publik: menghidupkan ekonomi, menjaga kesehatan, dan merawat budaya. “Ini bukan sekadar tempat belanja. Ini tempat untuk saling mengenal, berbagi gagasan, dan menguatkan solidaritas sosial,” ujarnya. Pasar Minggu TBEG dirancang sebagai wadah kolaboratif antara pelaku UMKM, seniman, komunitas kesehatan, dan warga. Pendekatan partisipatif ini menjadikan taman kota lebih dari sekadar ruang hijau: ia menjadi ekosistem sosial yang inklusif dan memberdayakan. “Kami ingin menunjukkan bahwa taman kota bisa produktif tanpa kehilangan jati dirinya. Ini ruang yang memanusiakan, bukan memisahkan,” tambah Agus. Dengan memberdayakan komunitas lokal dan memperluas akses pasar bagi UMKM, Pasar Minggu TBEG memperkuat ekonomi rakyat sekaligus menjaga denyut kebudayaan kota. Inisiatif ini membuktikan bahwa gerakan lokal yang sederhana dapat menciptakan dampak besar dalam membangun kota yang hidup, partisipatif, dan berkelanjutan.
Kajian Akbar Ustadzah Oki Setiana Dewi di Loman Park Hotel Sentuh Relung Jiwa Ratusan Muslimah
Lokalpress.id, Yogyakarta – Ratusan muslimah dari berbagai daerah memadati Ballroom Loman Park Hotel Yogyakarta untuk mengikuti kajian akbar bertajuk “Ya Allah, Bolehkah Aku Menyerah?” bersama Ustadzah Oki Setiana Dewi, dalam rangkaian program unggulan #LomanMengaji, Kamis (24/7/2025). Suasana penuh hikmah dan ketenangan terasa sejak awal acara. Tak hanya menyimak ayat-ayat yang dikaji, para peserta juga mendapat pelukan makna dan kekuatan spiritual dari pesan-pesan yang disampaikan Ustadzah Oki. Ia mengajak jamaah untuk merenungi keikhlasan dalam menerima takdir, pentingnya menjaga harapan di tengah cobaan, serta menjadikan salat sebagai kekuatan batin yang hakiki. Antusiasme masyarakat luar biasa, seluruh kuota kajian terisi penuh kurang dari 24 jam sejak pendaftaran dibuka. Ini menunjukkan tingginya kerinduan terhadap pencerahan spiritual di tengah riuhnya problematika kehidupan modern. Menurut Handono S. Putro, Founder & Managing Director Loman Park Hotel, acara ini bukan sekadar menghadirkan nama besar, melainkan menjawab keresahan batin manusia modern yang mencari makna hidup. “Pusaran hidup yang tak pasti seringkali membuat kita gelisah. Kajian ini adalah ruang untuk pulang. Pulang kepada ketenangan melalui sabar, salat, dan berserah,” ujarnya. Kegiatan ini juga didukung oleh berbagai mitra yang menyemarakkan acara dengan semangat kolaboratif. Di antaranya, RS Muhammadiyah AMC yang menghadirkan layanan mini medical check-up, Wardah dengan goodie bag eksklusif, serta kontribusi dari Racika Falah, Karita, Rubiqa Travel, Etawalin, dan SahabatQu Islamic Fullday School. Mereka menunjukkan bahwa dzikir sosial bisa hadir melalui aksi nyata dan kolaborasi kebaikan. Sebagai bentuk apresiasi, Loman Park Hotel memberikan hadiah menginap gratis untuk konten kreator terbaik yang membagikan momen inspiratif dari acara ini. Langkah kecil namun bermakna untuk merawat semangat dakwah digital. Lebih dari sekadar forum kajian, program ini menegaskan bahwa Loman Park Hotel tak hanya tempat bermalam, tapi juga ruang merenung, ruang untuk memaknai kembali hidup, dan kembali pada Sang Sumber ketenangan sejati.
“Lebih dari Sekadar Destinasi: Merancang Pariwisata yang Penuh Energi, Karakter, dan Makna”
Pariwisata masa kini tak cukup hanya menjual pemandangan indah. Di Yogyakarta, pendekatan baru tengah dikembangkan: menghadirkan wisata yang menyentuh hati, menggugah kesadaran, dan sarat makna kehidupan. Lokalpress.id, Yogyakarta – Di tengah arus wisata global yang semakin kompetitif, pengelolaan destinasi tak lagi cukup hanya mengandalkan keindahan alam semata. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam dan menyeluruh: bagaimana sebuah tempat bisa menyentuh hati, menghidupkan pengalaman, dan meninggalkan kesan bermakna bagi siapa pun yang datang. Inilah semangat baru dalam manajemen bisnis dan pemasaran destinasi – merancang wisata yang mengalirkan energi, mencerminkan karakter lokal, dan menyampaikan makna kehidupan. Semangat ini mewarnai rangkaian forum pelatihan dan diskusi strategis yang digelar di Pendopo Desa Wisata Lopati, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Bertempat di jantung kawasan dengan kearifan lokal yang kuat, kegiatan ini menghadirkan pelaku pariwisata, akademisi, dan komunitas kreatif dari berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Diskusi tidak hanya membahas soal promosi digital atau strategi branding semata, tetapi menyelami lebih dalam inti dari sebuah destinasi: getaran emosional yang dirasakan wisatawan, nilai-nilai budaya yang dikemas menjadi pengalaman otentik, serta potensi transformasi batin yang bisa dialami oleh setiap pengunjung. “Wisata bukan sekadar datang dan melihat, tetapi mengalami dan memahami,” ujar salah satu narasumber dalam sesi diskusi terbuka. Pendekatan ini sangat sejalan dengan tren transformational tourism, yang makin diminati wisatawan global saat ini: wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mencerahkan dan menyadarkan. Narasumber utama sekaligus Ketua Bidang Objek Daya Tarik Wisata GIPI DIY, Agus Budi Rahman, menegaskan bahwa saat ini Yogyakarta memiliki peluang besar untuk menjadi pusat transformasi pariwisata nasional. “Yogyakarta bukan hanya punya alam dan budaya. Kita punya energi, karakter, dan makna yang hidup dalam keseharian masyarakat. Tantangan kita adalah bagaimana mengemas semua itu dengan narasi yang menyentuh dan strategi manajemen yang tepat,” ujar:Agus:21/07/2025 Agus juga menekankan pentingnya menyelaraskan antara nilai budaya lokal dan kebutuhan wisatawan modern. “Pariwisata hari ini harus bergerak dari sekadar atraksi menjadi pengalaman yang menggugah. Kita tidak sedang menjual tempat, tetapi mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri lewat ruang dan cerita yang hidup,” tambahnya. DIY, khususnya Yogyakarta, memiliki seluruh elemen untuk menjadi pelopor paradigma baru ini. Energi spiritual dari tradisi dan ritus lokal, karakter budaya yang kuat dan hidup, serta narasi kehidupan masyarakat desa yang menyentuh dan otentik, menjadi fondasi yang tak ternilai. Tantangannya kini adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas dalam strategi manajemen yang terstruktur, berdampak, dan berkelanjutan. Dengan semangat kolaboratif antar-pemangku kepentingan, transformasi pengelolaan destinasi berbasis manajemen bisnis dan pemasaran modern ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tapi juga meningkatkan nilai ekonomi, kualitas relasi sosial, dan keharmonisan ekologis. Lebih jauh dari itu, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pariwisata bukan hanya soal “ke mana” seseorang pergi, tetapi “untuk apa” ia melakukan perjalanan. Sebuah ajakan untuk menjadikan setiap destinasi sebagai ruang pembelajaran, pemulihan, dan perjumpaan makna hidup.Tutup:Agus
Cara Cerdas Promosi Tanpa Terlihat Sedang Beriklan
Di tengah banjir iklan yang membuat banyak orang lelah melihat promosi langsung, advertorial hadir sebagai solusi. Ia bukan iklan biasa, melainkan cerita yang membangun kepercayaan—tanpa menggurui. Tapi, apa itu advertorial, dan mengapa semakin banyak brand menggunakannya? ✅ Apa Itu Advertorial? Advertorial adalah gabungan dari kata “advertisement” (iklan) dan “editorial” (artikel). Artinya, bentuk promosi yang disampaikan dalam format tulisan layaknya berita atau cerita. Isinya tetap promosi, tapi dengan gaya yang halus dan edukatif—tidak seperti iklan banner atau pop-up. 💡 Kenapa Advertorial Efektif? Lebih dipercaya – Karena tidak terasa “jualan langsung”, pembaca cenderung menganggap advertorial sebagai informasi, bukan promosi. Tahan lama – Tidak seperti iklan di medsos yang menghilang dalam 24 jam, advertorial bisa diakses kapan saja di media online. SEO-friendly – Jika ditulis dengan kata kunci yang tepat, advertorial bisa muncul di hasil pencarian Google. Cocok untuk storytelling – Cocok untuk membangun narasi brand: kisah pendiri, testimoni pelanggan, hingga perjalanan produk. ✍️ Siapa yang Cocok Gunakan Advertorial? UMKM yang ingin dikenal lebih luas tanpa bujet besar Kampus & sekolah yang ingin promosi pendaftaran siswa/mahasiswa Komunitas & NGO yang ingin sosialisasi program Caleg dan partai politik yang ingin kampanye elegan Event organizer yang ingin liputan dan jangkauan regional 📈 Contoh Nyata Dampaknya Banyak klien kami merasakan manfaat advertorial, seperti: Meningkatkan trafik website dan WhatsApp Mendapat perhatian media lain (repost & undangan liputan) Meningkatkan kepercayaan pembaca karena tampil di media resmi Menguatkan jejak digital brand (digital presence) 🛠️ Tips Sukses Membuat Advertorial: Gunakan judul menarik seperti “5 Alasan Kenapa…” atau “Bagaimana Kami…” Ceritakan manfaat, bukan hanya fitur Akhiri dengan call-to-action yang halus: ajakan beli, klik, atau kontak Pilih media lokal yang sesuai target pasar Anda 📣 Penutup: Di era di mana promosi yang terlalu terang-terangan makin dihindari, advertorial menjadi pendekatan yang lebih halus, strategis, dan dipercaya. Dengan biaya yang jauh lebih hemat dari iklan TV atau influencer besar, advertorial mampu menjangkau pembaca yang benar-benar relevan—dengan pesan yang lebih kuat. Ingin brand Anda dikenal lewat cerita yang meyakinkan? Hubungi kami di www.lokalpress.id untuk tayang di puluhan media lokal se-Indonesia!
Yogyakarta Siap Menjadi Hub Wisata ASEAN: Sinergi Strategis BPPD DIY dan Media
Lokalpress.id, Yogyakarta — Dalam era globalisasi dan konektivitas tinggi, pariwisata tidak lagi dipandang sebagai aktivitas rekreatif semata, melainkan sebagai sarana diplomasi budaya, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan identitas daerah. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai pusat kebudayaan sekaligus destinasi unggulan di Indonesia, kini membidik peluang yang lebih luas dengan menargetkan diri sebagai hub pariwisata ASEAN, terutama untuk pasar strategis Thailand dan Malaysia. Untuk mewujudkan visi tersebut, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY menjalin sinergi dengan media digital nasional sebagai mitra komunikasi strategis. Kolaborasi ini bertujuan membangun kampanye promosi pariwisata yang tidak hanya luas jangkauannya, tetapi juga kontekstual, autentik, dan menyentuh aspek kehidupan masyarakat lokal. Dengan pendekatan community storytelling atau narasi berbasis komunitas, promosi pariwisata DIY akan lebih menonjolkan kekayaan hidden gem di berbagai desa wisata. Wisata berbasis kearifan lokal ini tidak hanya menjadi daya tarik tersendiri, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan mancanegara untuk memahami kedalaman budaya Jawa yang hidup selaras dengan alam dan spiritualitas. Di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata di kawasan Asia Tenggara, tersedianya konektivitas langsung melalui rute penerbangan dari Thailand dan Malaysia ke Yogyakarta menjadi langkah strategis. Langkah ini memperkuat posisi DIY sebagai gerbang utama ke wilayah tengah dan selatan Indonesia. Kampanye promosi ini juga akan mengoptimalkan momen kunjungan rendah di awal dan akhir tahun, agar distribusi arus wisatawan berlangsung lebih merata sepanjang tahun. GKR Bendara, selaku Ketua BPPD DIY, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. Kami tidak hanya ingin menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga ingin memastikan bahwa pengalaman mereka di Yogyakarta meninggalkan kesan mendalam, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” Tutur GKR Bendara.Jumat:18/07/2025 di Yogyakarta Upaya ini mencerminkan paradigma baru dalam promosi pariwisata: bukan sekadar menghadirkan keramaian, melainkan merancang pertemuan yang bermakna antara tamu dan tuan rumah; antara narasi global dan akar lokal. Pariwisata menjadi ruang perjumpaan nilai—tempat ekonomi bertemu ekologi, teknologi bertemu tradisi. Sinergi antara BPPD DIY dan media digital ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu menciptakan ekosistem promosi yang adaptif, berkelanjutan, dan berpijak pada kekuatan lokal. Yogyakarta bukan hanya siap menyambut wisatawan ASEAN, tetapi juga siap menyongsong masa depan pariwisata yang lebih berkesadaran dan berdaya.Tutup : GKR Bendara
Sri Sultan Larang Penahanan Ijazah Pekerja di DIY: Dunia Usaha Wajib Patuh!
Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengeluarkan larangan tegas terhadap praktik penahanan ijazah oleh perusahaan. Kebijakan ini menegaskan komitmen DIY dalam melindungi hak dan martabat pekerja. Yogyakarta — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 6851 Tahun 2025 tentang Larangan Penahanan Ijazah dan/atau Dokumen Pribadi Milik Pekerja/Buruh oleh Pemberi Kerja, yang ditandatangani pada 10 Juni 2025. Langkah ini menjadi respons nyata atas maraknya praktik penahanan ijazah yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan sebagai bentuk jaminan kerja terhadap karyawannya. Praktik semacam ini dinilai melanggar hak dasar pekerja dan berpotensi menjadi bentuk pemaksaan yang tidak manusiawi, serta bertentangan dengan semangat perlindungan ketenagakerjaan. Dalam surat edaran tersebut, Sri Sultan menegaskan bahwa penahanan ijazah maupun dokumen pribadi lainnya seperti KTP, kartu keluarga, atau dokumen legal milik pekerja adalah tindakan yang tidak dibenarkan secara hukum. Pemberi kerja dilarang keras melakukan penahanan atas alasan apapun. Namun, terdapat pengecualian dalam kondisi tertentu. Apabila terdapat kesepakatan tertulis antara pekerja dan pemberi kerja yang sah secara hukum dan memuat alasan yang mendesak, penyerahan dokumen seperti ijazah tetap dimungkinkan. Akan tetapi, hal ini harus memenuhi sejumlah ketentuan ketat, antara lain: Dilakukan atas dasar kesepakatan sukarela dari pihak pekerja. Dicatat secara resmi dan disaksikan oleh pihak berwenang. Disertai jangka waktu penahanan yang jelas dan terbatas.Diberikan tanda terima atau bukti serah terima yang dapat dipertanggungjawabkan. Penerbitan SE ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor M/5/HK.04.00/V/2025, yang lebih dahulu menginstruksikan seluruh kepala Daerah agar menjamin hak pekerja atas dokumen pribadinya. Sri Sultan HB X dalam arahannya berharap agar seluruh perusahaan, baik di sektor formal maupun informal di wilayah DIY, menjunjung tinggi prinsip keadilan dan menghormati martabat pekerja. Penahanan ijazah sebagai bentuk tekanan kerja tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mencederai nilai-nilai luhur ketenagakerjaan yang menjunjung keadilan dan transparansi. DIY harus menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperlakukan pekerja secara adil dan manusiawi,” demikian disampaikan Sri Sultan. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, dalam pernyataan terpisah, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan sosialisasi intensif kepada dunia usaha serta membuka kanal pengaduan bagi para pekerja yang mengalami penahanan dokumen. Pemberi kerja yang melanggar aturan ini dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan terbitnya SE ini, diharapkan dunia usaha di DIY semakin sadar akan pentingnya membangun hubungan kerja yang sehat, profesional, dan saling menghormati. Perlindungan terhadap pekerja bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga landasan menuju iklim ketenagakerjaan yang produktif dan berdaya saing tinggi. (ome)
Wisuda XVII ,STAK Teruna Bhakti Yogyakarta,Dalam Proses Bertransformasi Menjadi STAK Negeri Yogyakarta.
STAK Teruna Bhakti Yogyakarta wisuda 144 lulusan dan tengah bertransformasi menjadi STAK Negeri Yogyakarta, siap berdampak nasional dan global. Lokalpress.id, Yogyakarta — Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Teruna bhakti Yogyakarta, padamester I.Tahun 2025 mewisuda 144 Wisudawan terdiri dari S1 Teolodi 9 orang, S1 PAK 112 orang, S2 PAK 13 orang, S3 Teologi 9 Orang. Prosesi Wisuda dilaksanakan secara hybrid (Virtual dan Inside) bertempat di Hotel Tara, Jalan Magelang, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu 10 Juli 2025. Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti (STAK TB) Yogyakarta, dalam proses aktifitas Akademik didukung oleh Staf Pengajar yang berkualitas dan kompeten pada bidangnya, dengan beberapa Program Studi unggulan diantaranya : Program Pendidikan Agama Kristen (Terakreditasi BAN -PT)., Program Magister Pendidikan (Terakreditasi BAN- PT)., Magister Teologi (Dalam proses Akresitasi)., Program Doktor Teologi (Terakreditasi BAN-PT) Assoc Prof.Dr. Johannis Siahaya,M.Th, Ketua STAK Teruna Bakti Yogyakarta dalam Sambutan pembukaan Rapat Senat Terbuka Wisuda ke XVII tahun 2025 dengan tema “Melayani dari Daerah, berdampak bagi Dunia”, dengan konsep acara Celebration Akademik. Lebih lanjut, Dr.Johannis Siahaya menerangkan bahwa para wisudawan / wisudawati yang telah menyelesaikan Proses akademiknya di STAK TB, hari ini diwisuda , para Wusudawn ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, dan ada juga dari luar negeri (Singapura). Nilai-Nilai Utama yang menjadi fondasi STAK Teruna Bakti miliputi lima (5) Aspek yaitu: Berpusat pada Allah., Berlandaskan Alkitab., Berkarakter Kristus., Bersinergi dengan Gereja., Bertindak Profesional., dengan mendorong etos kerja dan Akademik yang unggul, disiplin, dan berdampak luas. tutur Ketua STAK TB Yogyakarta. Dengan kurikulum Kebangsaan yang integratif dan konseptual, STAK Teruna Bakti Yogyakarta mendidik mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas Teologis sekaligus praktis, Kurikulum ini mencakup materi- materi disiplin ilmu seperti filsafat, kewirausahaan, teknologi Informasi, hingga studi kemasyarakatan. Pendekatan ini menjadikan lulusan STAK Teruna Bakti Yogyakarta tidak hanya cakap dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga unggul dalam menjawab realitas sosial budaya di masyarakat luas, Filosofi Pendidikan ” Be Evangelis, Be holy and Be Plural, terus di internalisasikan sebagai jati diri kelembagaan dan karakter lulusan, yang menekankan” Hidup Kudus, Berhati Tulus dan Berlaku Lurus.ujar Johannis Siahaya. Strategi kelembagaan STAK Teruna Bakti Yogyakarta saat ini sedang dalam proses transformasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Kristen swsta ke Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Yogyakarta, proses ini didasarkan pada naskah Akademik yang telah dirancang untuk memenuhi kriteria Transformasi kelembagaan, sesuai Regulasi Pendidikan Nasional. Transformasi ini diharapkan meningkatkan kesejahteraan dan masa depan Pendidikan Teologi Kristen di Indonesia. Dengan menjadi institusi Pendidikan Negeri, STAK Teruna Bakti akan lebih mampu bersinergi secara Nasional dan Global tanpa kehilangan spiritualitas dan identitas ke -Kristenannya. pungkas Pdt.Dr.Johannis Siahaya, M.Th. Sementara itu, sambutan Plt.Pembimas Kristen Kanwil Kemenag DIY, disampaikan oleh Perwakilan H.Muntolib Hasan,s.Ag.M.Si, dengan mengatakan, Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar tetapi sebuah permulaan untuk menuju tahap belajar selanjutnya dalam sebuah perjalanan sepanjang hidup ,pungkasnya (adv/Ome)