Lokalpress.id, Yogyakarta – Jogja Culture Wellness Festival (JCWF) 2025 resmi dibuka dengan penuh kehangatan dan kekhidmatan, menampilkan rangkaian program yang merayakan kekayaan budaya, filosofi hidup Jawa, dan tradisi wellness nusantara. Pembukaan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk mengangkat Yogyakarta dan Surakarta sebagai destinasi unggulan Wellness Tourism di Indonesia dan Asia Tenggara. Mengusung tema “Salarasing Urip, Wiraga, Wirasa, Wirama, A Journey of Balance & Harmony”, festival tahun ini dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan menggandeng para pelaku industri kreatif, praktisi pariwisata, serta pemerhati budaya. Tema ini merefleksikan harmoni antara raga, rasa, dan ritme kehidupan, yang menjadi ruh dari seluruh rangkaian festival. Acara pembukaan turut dihadiri tokoh-tokoh inspiratif yang memiliki peran strategis dalam pengembangan pariwisata dan budaya, di antaranya: * Ibu Andriana Wulandari, S.E. – Ketua Komisi B DPRD DIY * Maharani Divaningtyas – Puteri Indonesia Inovasi & Teknologi 2025 * Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M. – Perwakilan DPD RI untuk DIY * GKR Bendara – Ketua Panitia JCWF & Kepala Badan Promosi Pariwisata DIY * Drs. Imam Pratanadi, M.T. – Kepala Dinas Pariwisata DIY * Afnurrobie Bintang Jauhari – General Manager Mustika Yogyakarta Resort & Spa Kehadiran para tokoh tersebut mempertegas sinergi kuat antara pemerintah, industri hospitality, dan komunitas budaya untuk memajukan pariwisata berbasis wellness di Indonesia. Prosesi Kembul Bujana: Pengalaman Luhur yang Membumi Salah satu momen paling berkesan pada pembukaan JCWF 2025 adalah prosesi “Kembul Bujana”, sebuah santap budaya yang sarat makna kebersamaan ala keraton Jawa. Hidangan tradisional penuh warna disajikan cantik di atas tampah (nampan bambu), menghadirkan pengalaman rasa sekaligus makna. Atmosfer Pendhopo 3 Mustika Yogyakarta Resort & Spa sengaja dibuat tanpa penggunaan gawai, agar para tamu dapat meresapi filosofi Kembul Bujana secara penuh, sebuah penghormatan terhadap nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kearifan lokal. Prosesi dipandu oleh Bukhi Prima Putri, pendiri Bhumi Buvana, yang mengurai makna budaya dan tahapan ritual dengan indah dan membumi. Rangkaian Program Sepanjang November JCWF 2025 hadir setiap hari Sabtu sepanjang bulan November dengan tema berbeda setiap pekan. Minggu pertama mengangkat tema “Healthy Food & Herbs”, menyoroti nutrisi alami dan kekayaan rempah Jawa sebagai fondasi kesehatan holistik. Pengunjung akan disuguhkan: * Cooking Demonstration oleh tim kuliner Mustika Yogyakarta Resort & Spa * Hidangan autentik khas Kembul Bujana * Workshop wellness tematik * Yoga outdoor dan sesi healing mind–body * Aktivitas budaya interaktif yang memperkaya wawasan Semua rangkaian program dirancang sebagai perjalanan menyeluruh yang memadukan budaya, kebugaran, dan pariwisata berkelanjutan yang selaras dengan visi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai destinasi wellness dunia. Akses Eksklusif & Promo Menginap Dapatkan akses gratis ke Area JCWF di Mustika Yogyakarta Resort & Spa melalui promo kamar spesial. Nikmati pengalaman festival yang nyaman, berkelas, dan penuh nilai budaya dalam satu paket menginap, lengkap dengan kemudahan mengikuti seluruh program JCWF. 🔗 Informasi & Reservasi: www.mustikayogyakarta.com Contact: Christiana Silvia – Digital Marketing Mustika Yogyakarta Resort & Spa 📞 0812 2662 5075 ✉️ christiana.silvia@mustikayogyakarta.com
Jogja Cultural Wellness Festival 2025: Perpaduan Budaya dan Kemewahan Wellness di Jantung Yogyakarta
Lokalpress.id, Yogyakarta — November ini, elevasikan perjalanan wellness Anda menuju pengalaman yang memadukan kemewahan, budaya, dan harmoni batin melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 — sebuah perayaan sepanjang satu bulan yang dirancang bagi mereka yang menghargai gaya hidup berkesadaran, bermakna, dan berkelas. Hadir setiap akhir pekan pada 1–30 November 2025, JCWF mengundang Anda menapaki perjalanan wellness eksklusif yang berakar pada keanggunan kearifan Jawa. Dari kuliner herbal artisanal, eco-luxe living, ritual spiritual yang menenangkan, hingga perawatan kecantikan alami, setiap detail dikurasi untuk memanjakan indera dan menyegarkan jiwa. Rasakan pelarian wellness yang sempurna, di mana alam, seni budaya, dan wellbeing berpadu dalam atmosfer elegan dan menenangkan, hanya di Yogyakarta. Tema Mingguan: Kurasi Pengalaman untuk Para Penikmat Wellness Berkelas MINGGU 1 — Healthy Food & Herbals 🗓 1 November 2025 — Mustika Yogyakarta Resort & Spa Nikmati kekayaan alam melalui jamu, herbal, dan hidangan sehat bernutrisi tinggi yang disajikan dalam sentuhan heritage berkelas. MINGGU 2 — Eco-Friendly Living 🗓 8 November 2025 — Mustika Yogyakarta Resort & Spa Rasakan gaya hidup berkelanjutan dalam nuansa refined living: workshop eksklusif dan inspirasi mindful living untuk hidup elegan selaras dengan alam. MINGGU 3 — Spiritual Wellness & Energy Healing 🗓 15 November 2025 — Mustika Yogyakarta Resort & Spa Sebuah perjalanan menuju keseimbangan energi, ritual mindfulness, dan ketenangan spiritual untuk memulihkan kejernihan serta harmoni batin. MINGGU 4 — Natural Beauty, Family & Inner Child 🗓 22 November 2025 — Mustika Yogyakarta Resort & Spa Kembali pada keanggunan alami dan kebahagiaan autentik melalui family bonding serta ritual penyembuhan untuk inner child. MINGGU 5 — Harmony in Wellness (Closing Celebration) 🗓 29–30 November 2025 — Asram Edupark Yogyakarta Perayaan puncak eksklusif selama dua hari, menghadirkan sesi healing kurasi, pasar wellness artisanal, pertunjukan budaya, dan musik soulful bernilai estetika tinggi. Sebuah Sanctuary Wellness Berkelas Menanti Anda Nikmati pengalaman yang dirancang dengan penuh ketelitian dan kelembutan, mencakup: Talkshow & workshop intim bersama para ahli Sesi healing privat & ritual terapi holistik Gourmet herbal dining yang dikurasi secara eksklusif Pertunjukan seni & budaya bernilai estetika tinggi Boutique wellness marketplace & produk craft pilihan Setiap detail dihadirkan untuk memancarkan ketenangan, kejernihan, dan kemewahan dalam mindful living. Amankan Undangan Eksklusif Anda Temukan kembali keseimbangan, keaslian diri, dan seni hidup berkelas, di jantung budaya Jawa. (Adv) 📖 Unduh Guide Book Resmi: Disini! 🎟️ Pesan Tiket & Dapatkan Undangan Eksklusif Anda: diSini!
GKR Bendara Perkenalkan Konsep Hidup Selaras ala Yogyakarta untuk Wisatawan Global
Salarasing Urip, Wiraga, Wirasa, Wirama Tiga Getaran Hidup dari Yogyakarta untuk Dunia Lokalpress.id, Yogyakarta – Masihkah kita benar-benar hidup dalam kesadaran? Atau sekadar berlari mengikuti irama dunia yang kian bising, hingga lupa mendengar denyut kehidupan itu sendiri? Di tengah percepatan zaman dan keterputusan manusia dari akar dirinya, Yogyakarta menawarkan jalan pulang: Salarasing Urip, keselarasan hidup antara tubuh (wiraga), rasa (wirasa), dan irama (wirama). Sebuah filosofi Jawa yang tidak hanya mengajarkan harmoni, tetapi juga menjadi refleksi universal tentang keseimbangan ekologis, spiritual, dan sosial. Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 hadir sebagai perjalanan batin, menuntun kita kembali pada ketenangan, alam, dan diri sendiri. Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan proses penyadaran kolektif yang menautkan kembali manusia dengan semesta. Melalui yoga, meditasi, jamu, seni, dan berbagai praktik penyembuhan berbasis kearifan lokal, JCWF menghadirkan pengalaman yang menyentuh jiwa: dari tradisi menuju transformasi, dari budaya menuju kesadaran. 📍 Mustika Yogyakarta Resort & Spa (1, 8, 15, 22 November 2025) 📍 Asram Edupark (29 & 30 November 2025) Sebagai Chairwoman JCWF 2025 dan Head of Tourism Promotion Board Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendara menegaskan bahwa wellness tourism adalah arah baru pariwisata Yogyakarta, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan kesadaran. Di bawah kepemimpinannya, Yogyakarta dihadirkan sebagai ruang belajar hidup: tempat budaya, spiritualitas, dan keberlanjutan berpadu menjadi satu kesatuan pengalaman yang otentik. Setiap langkah di tanah Jogja adalah undangan untuk berhenti sejenak, bernapas, dan merasakan kehidupan dengan penuh sadar. Di antara semerbak tanah basah dan gemericik air yang menentramkan, Yogyakarta berbisik lembut: urip iku urup, hidup adalah nyala. Sampai bertemu di Jogja Cultural Wellness Festival 2025, di mana keindahan dan kedamaian menyatu, dan setiap napas menjadi bagian dari irama semesta.
Menyusuri Gelombang Kesadaran: Dua Tahun Jungwok Blue Ocean dan Panggilan Alam yang Tak Pernah Reda
Lokalpress.id, Gunungkidul – Di tepian selatan Gunungkidul, laut bukan sekadar bentangan air dan pasir—ia adalah ruang kesadaran, tempat manusia belajar tentang keseimbangan, daya lenting, dan keberlanjutan. Sejak hadir dua tahun lalu, Jungwok Blue Ocean & Resort menjadi simbol transformasi pariwisata pesisir: bukan hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan ekonomi berbasis komunitas. Memasuki gelombang kedua, perjalanan ini menjadi refleksi tentang bagaimana destinasi wisata dapat tumbuh dalam harmoni antara alam, budaya, dan ekonomi lokal. Jungwok kini berdiri sebagai ruang praksis dari konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable coastal tourism), sebuah model yang menempatkan manusia dan alam dalam hubungan saling merawat. Dalam konteks ini, Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan wisata pesisir. Bagi beliau, Jungwok bukan sekadar destinasi, melainkan ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan yang menghubungkan pelaku wisata, masyarakat, dan pemerintah dalam satu visi keberlanjutan. Perayaan dua tahun ini diwujudkan melalui Jungwok Festival, menghadirkan Denny Caknan, DJ Katty Butterfly, dan Melody Band, sebagai simbol harmoni antara kegembiraan, musik, dan kesadaran lingkungan. Di antara irama laut dan denting nada, terselip pesan bahwa pembangunan pariwisata bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang tumbuhnya kesadaran kolektif akan kelestarian bumi. Sebagaimana ombak yang tak pernah berhenti bergerak, Jungwok Blue Ocean & Resort terus menulis bab-bab baru tentang perubahan dan pengabdian. “Gelombang Kedua” bukan sekadar perayaan, tetapi manifesto biru tentang masa depan pariwisata yang lebih bijak, manusiawi, dan berkelanjutan, dari pesisir selatan Yogyakarta, untuk dunia. (Ist)
Cakra Tri Sad Nawa 369: Menyatukan Seni, Spiritualitas, dan Penyembuhan ala Nusantara
Yogyakarta – Di tengah arus modernitas yang serba cepat, sekelompok praktisi, seniman, dan penghayat dari berbagai disiplin memilih jalan sebaliknya, jalan hening, jalan penyadaran. Mereka menamakan dirinya Cakra Tri Sad Nawa (369), sebuah gerakan kesadaran dan penyembuhan yang berakar pada filosofi harmoni kosmis: tiga, enam, sembilan. Angka-angka ini bagi mereka bukan sekadar simbol, melainkan peta kesadaran untuk menyelaraskan tubuh, energi, dan jiwa. Berdiri di jantung kebudayaan Yogyakarta, komunitas ini menjembatani seni, spiritualitas, dan terapi metafisika dalam semangat well-being khas Nusantara. Di bawah bendera “Gerakan Kesadaran, Penyembuhan, dan Kearifan Nusantara”, Cakra 369 menghadirkan praktik meditasi, ritual budaya, hingga performans seni yang dirancang bukan hanya untuk memulihkan tubuh, tapi juga membangkitkan kesadaran kolektif. “Penyembuhan sejati tidak berhenti pada raga. Ia adalah perjalanan kesadaran untuk menemukan kembali hubungan kita dengan alam dan Sang Sumber,” tutur Senojati, praktisi terapi metafisika sekaligus pimpinan Padepokan Gendam Mataram. Bersama rekan-rekannya, ia menghidupkan ruang belajar dan penyembuhan yang berpadu antara energi, rasa, dan spiritualitas Jawa. Di sisi lain, Nanang Garuda menuturkan kesadaran lewat sejarah dan bunyi. Pendiri Rumah Garuda ini memaknai lambang negara bukan hanya secara simbolik, tetapi juga spiritual. “Garuda adalah cermin perjalanan jiwa bangsa. Musik dan sejarah menjadi medium untuk mengingat kembali itu,” ujarnya. Sementara Iwan Wijono, seniman kontemporer dan direktur Performance Klub, menggerakkan seni sebagai bentuk refleksi sosial dan spiritual. Karya-karyanya memadukan isu lingkungan, kemanusiaan, dan nilai-nilai leluhur. “Seni adalah doa yang bergerak,” katanya, “ia bisa menjadi terapi, bisa menjadi kesadaran.” Anggota lain; seperti Ki Singkir, praktisi jamasi pusaka; Neezzar Sayddan, trainer hipnosis lintas Asia; Girian Veriwinata, hipnoterapis klinis anak; hingga Novie Candra, pelatih olah napas dan energi prana, menambah dimensi baru dalam praktik penyembuhan holistik yang mereka jalani. Semuanya berpadu dalam satu frekuensi: harmoni antara pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal. Melalui partisipasi dalam ajang Wonderful Indonesia Wellness dan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF), Cakra 369 memperlihatkan wajah lain dari wellness , bukan sekadar tren gaya hidup, tapi warisan kesadaran Nusantara yang hidup, menubuh, dan terus bertumbuh. Bagi mereka, penyembuhan adalah laku. Kesehatan bukan hanya tubuh yang bugar, melainkan jiwa yang sadar dan hati yang selaras. Di sanalah letak sejati dari “Tri Sad Nawa”: keseimbangan manusia, alam, dan semesta. (Ist)
GKR Bendara Hidupkan Wajah Baru Pariwisata Yogyakarta Lewat Festival “Remember November – YOK JAKARTA”
Lokalpress.id, Yogyakarta – Yogyakarta – Yogyakarta kembali membawa semangat barunya ke panggung nasional melalui event “Remember November – YOK JAKARTA”, sebuah perayaan kolaboratif yang menggabungkan musik, budaya, dan promosi pariwisata. Acara ini akan berlangsung di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 22–23 November 2025, dengan menampilkan energi khas Jogja dalam kemasan yang segar dan kreatif. Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara Ketua Badan Promosi Pariwisata (BPPD) DIY , festival ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan wajah baru pariwisata Yogyakarta di tingkat nasional. Tidak lagi sekadar dikenal dengan Malioboro, Jogja kini hadir sebagai rumah bagi kreativitas, kebudayaan, dan pengalaman wisata yang autentik. “Kami ingin menjadikan Bale Remember in November, YOK JAKARTA sebagai wadah sinergi antara musik, budaya, dan pariwisata. Bahwa Jogja bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi pengalaman yang harus dirasakan,” ujar GKR Bendara, Ketua BPPD DIY. Sinergi Musik dan Pariwisata: Yogyakarta Beyond Malioboro Festival musik bertema “Yokjakarta” ini tak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum penting untuk mempromosikan destinasi wisata unggulan DIY. BPPD DIY menghadirkan 10 Desa/Kampung Wisata terkurasi yang akan menampilkan atraksi khas, paket wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), serta produk kreatif masyarakat lokal. Tahun sebelumnya, Festival Remember November sukses menarik lebih dari 31.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan. Kini, dengan semangat baru “Yokjakarta”, festival ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi pariwisata DIY sekaligus memperkuat branding “Yogyakarta Beyond Malioboro.” “Momentum ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku pariwisata, UMKM, serta ekosistem kreatif Yogyakarta. Kami ingin membawa kehangatan dan semangat Jogja langsung ke Jakarta,” tutur GKR Bendara menambahkan. Menyambut Liburan Akhir Tahun, Ajak Wisatawan Kembali ke Jogja Diselenggarakan pada bulan November, festival ini menjadi bagian dari strategi promosi akhir tahun yang digagas oleh BPPD DIY. Melalui acara ini, masyarakat diajak mulai merencanakan liburan Desember dan Tahun Baru di Yogyakarta, menikmati pesona alam, budaya, dan keramahan warganya. Tema besar “Yogyakarta Beyond Malioboro” menegaskan ajakan untuk menjelajahi sisi lain Yogyakarta: dari desa wisata yang menenangkan, keindahan alam yang memukau, hingga geliat ekonomi kreatif yang tumbuh dari akar tradisi. “Jogja selalu punya cara untuk menyentuh hati. Melalui acara ini, kami ingin generasi muda dan masyarakat urban melihat bahwa Yogyakarta bukan sekadar tempat, melainkan ruang rasa, tempat orang bisa menemukan diri dan makna perjalanan,” ungkap GKR Bendara dalam pesan inspirasionalnya.
7 Fakta Menarik Jogja Cultural Wellness Festival 2025: Perayaan Jiwa dan Budaya dalam Harmoni
Yogyakarta – Yogyakarta selalu punya cara untuk memeluk jiwa, dan tahun ini, pelukan itu hadir lewat Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025, sebuah perayaan keseimbangan hidup yang menggabungkan budaya, alam, dan kesadaran diri dalam satu harmoni. Selama 1–30 November 2025, festival ini akan menjadi oasis bagi siapa pun yang ingin healing lebih dalam, bukan sekadar piknik, melainkan perjalanan menuju kesadaran yang utuh. Inilah 7 fakta menarik kenapa kamu harus jadi bagian dari JCWF 2025! 1. Festival Wellness Berbalut Kearifan Jawa JCWF bukan festival wellness biasa. Seluruh konsepnya berakar dari falsafah hidup Jawa: “Salarasing Urip, Wiraga, Wirasa, Wirama” (Kesatuan antara hidup, tubuh, rasa, dan irama) Di sini, wellness bukan tren gaya hidup modern, melainkan cara untuk menata harmoni antara manusia, alam, dan semesta. 2. Satu Bulan Penuh Perayaan Keseimbangan Selama lima pekan di bulan November, setiap akhir pekan menghadirkan tema yang berbeda, mulai dari makanan sehat, gaya hidup hijau, penyembuhan energi, hingga perawatan diri alami. Dari workshop dan healing session hingga pentas budaya dan kuliner sehat, setiap minggu membawa pengalaman baru dalam menemukan keseimbangan hidup. 3. Healthy Food & Herbal: Menyembuhkan dari Dapur Pekan pertama membuka festival dengan tema Healthy Food & Herbals. Kamu bisa belajar meracik jamu, mengenal fermentasi tradisional, hingga mengikuti Conscious Cooking Workshop, sambil menikmati curated lunch terinspirasi dari manuskrip kuliner Jawa kuno. Sehat, lezat, dan penuh makna! 4. Eco-Friendly Living: Hidup Selaras dengan Alam Krisis iklim bukan sekadar isu, tapi panggilan. Melalui tema Eco-Friendly Living, JCWF mengajak pengunjung untuk beraksi nyata, dari membuat eco-print, belajar dari komunitas zero waste, hingga berkarya dengan bahan daur ulang. Bonusnya? Tiket masuk gratis dengan menukar botol plastik bekas bersih! 5. Spiritual Wellness & Energy Healing: Menyentuh Kedalaman Jiwa Rasakan penyatuan antara energi, meditasi, dan ritual Nusantara di pekan ketiga. Mulai dari sound healing, Javanese meditation, hingga silent walk di alam terbuka, semuanya dirancang untuk menenangkan pikiran dan membuka ruang transformasi diri. Karena wellness sejati selalu berawal dari dalam. 6. Natural Beauty, Family & Inner Child: Pulang ke Diri dan Keluarga Tema pekan keempat akan jadi momen paling hangat. Kamu diajak memeluk anak batin, merawat diri dengan bahan alami, dan memperkuat hubungan keluarga lewat seni dan kebersamaan. Ada art therapy, family healing circle, dan ritual kecantikan tradisional dari para ahli spa lokal. Hangat, menyentuh, dan penuh cinta. 7. Harmony in Wellness: Puncak Spektakuler & Konser Kunto Aji Sebagai penutup, JCWF menghadirkan Harmony in Wellness, perayaan kebersamaan dan transformasi di Asram Edupark, Yogyakarta. Dari art installation dan community showcase, hingga Healing Music Concert bersama Kunto Aji, semuanya menjadi simbol penyatuan budaya, spiritualitas, dan kebahagiaan. Kamu akan pulang bukan hanya dengan foto, tetapi dengan rasa damai yang baru. Bonus: Festival yang Ramah Bumi dan Hati JCWF mengusung semangat keberlanjutan di setiap detailnya, tanpa sampah plastik, mendukung UMKM lokal, dan mengutamakan produk ramah lingkungan. Setiap langkahmu di festival ini adalah kontribusi kecil untuk bumi dan kehidupan yang lebih baik. Jogja Cultural Wellness Festival 2025 bukan hanya festival, ini adalah perjalanan pulang ke dalam diri, melalui budaya dan kebersamaan. Dari Yogyakarta, harmoni ini mengalir untuk dunia. “Di Jogja, kita tak sekadar hidup, kita belajar menyatu dengan kehidupan.” Salarasing Urip, Wiraga, Wirasa, Wirama. GKR Bendara Chairwoman JCWF 2025 Head of Tourism Promotion Board, Yogyakarta Special Region
Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri: Cucu Raja Pemecutan yang Membawa Pesona Bali ke Panggung Budaya Nasional
Lokalpress.id, Yogyakarta — Aroma keanggunan Bali terasa sejak sosok Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri melangkah memasuki aula megah Hotel Grand Serela Yogyakarta. Dengan balutan busana bernuansa etnik dan tutur kata yang lembut, cucu dari Raja Pamecutan, Bali, ini mencuri perhatian dalam ajang Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia (PPBI) 2025 yang digelar pada Kamis (16/10/2025). Gadis berusia 17 tahun, Siswi SMA Negeri 4 Denpasar, hadir bukan sekadar membawa nama besar keluarga Kerajaan, tetapi juga membawa misi kebudayaan, menghidupkan kembali semangat tradisi di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap melunturkan akar identitas bangsa. Darah Biru dengan Jiwa Budaya Tumbuh di lingkungan Puri Agung Pemecutan, salah satu puri tertua dan paling berpengaruh di Denpasar, Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri sejak kecil telah menyatu dengan ritme budaya dan spiritualitas Bali. Denting gamelan yang syahdu, wangi dupa yang menenangkan, serta nilai-nilai luhur Tri Hita Karana membentuk kepribadiannya: seimbang antara cinta kepada sesama, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa. Bagi saya, budaya bukan hanya warisan yang harus dijaga, tetapi juga napas kehidupan yang harus terus dihidupkan,” ungkap :Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputeri dengan senyum teduh yang mencerminkan kedewasaan batin di usia muda. Dikenal lembut namun tegas, Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputeri aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya di Bali, mulai dari pelestarian tari klasik hingga memperkenalkan filosofi hidup Bali kepada generasi muda. Nilai-nilai itu pula yang ia warisi dari sang ibunda, Anak Agung Vitra Fremeira Sarjana, seorang perempuan tangguh yang menanamkan pentingnya kearifan lokal di setiap langkah hidup putrinya. Membawa Bali ke Panggung Nasional Dalam ajang PPBI 2025 tanggal 14-18 Oktober 2025,Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri tampil mewakili Provinsi Bali dengan busana adat bernuansa keemasan yang memancarkan keanggunan kerajaan sekaligus keindahan seni rupa Bali. Ia memadukan kemewahan tradisi dengan semangat muda yang segar, sebuah simbol harmoni antara masa lalu dan masa depan. Namun, keindahan yang ia bawa tidak berhenti di permukaan. Di balik senyum lembutnya,Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri menuturkan gagasan kuat tentang pelestarian bahasa daerah dan kearifan lokal. Bahasa daerah adalah jiwa budaya. Ketika kita kehilangan bahasa, kita kehilangan sebagian jati diri sebagai bangsa,” tuturnya penuh makna. Advokasi Budaya: SEMARAK (Semangat Anak Rawat Kebudayaan) Dalam sesi wawancara, Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputeri memperkenalkan program advokasinya yang bertajuk SEMARAK (Semangat Anak Rawat Kebudayaan). Melalui inisiatif ini, ia mengajak anak-anak Bali untuk mengenal dan mencintai budaya melalui gending tradisional, permainan rakyat, dan cerita rakyat. Generasi muda harus dikenalkan pada budaya sejak kecil. Dari nyanyian dan permainan tradisional, mereka bisa belajar cinta dan bangga pada akar budayanya sendiri,”Tuturnya Bagi Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputeri program ini bukan sekadar proyek, tetapi panggilan hati untuk memastikan bahwa suara masa lalu tetap bergema di masa depan. Perjalanan Menuju Puncak Selama masa karantina PPBI, Anak Agung Sagung Saraswathi Dharmaputeri tampil dalam berbagai busana daerah seperti kain prada dan endek Bali karya desainer lokal. Pada sesi bakat, ia membawakan tarian bertema spiritualitas generasi muda Bali, menggambarkan perjalanan jiwa dari sembah bhakti kepada Sang Hyang Widhi hingga tekad melestarikan warisan leluhur di tengah tantangan zaman. Rangkaian kegiatan PPBI berlangsung hingga 18 Oktober 2025, dengan Grand Final pada 17 Oktober di Performance Hall Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Para finalis dari berbagai provinsi akan menampilkan kemampuan terbaik mereka, mulai dari presentasi budaya hingga aksi nyata pelestarian tradisi. Harapan Seorang Putri Bali Bagi Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri, menjadi cucu raja bukanlah sekadar kebanggaan, melainkan tanggung jawab moral untuk menyalakan kembali bara cinta budaya di dada generasi muda. Budaya bukan hanya pakaian adat atau upacara. Ia adalah identitas, cara berpikir, dan cara kita mencintai tanah air,”Jelasnya Dengan pesona lembut dan visi yang kuat, Agung Sagung Saraswathi Dharmaputri, siswi SMA Negeri 4 Denpasar, menjadi cerminan generasi muda yang berakar pada tradisi namun berpikiran modern. Melalui langkahnya di panggung PPBI 2025, Bali tidak hanya hadir dengan keindahan rupa, tetapi juga dengan jiwa, makna, dan kebijaksanaan yang hidup.Tutupnya (Satrio)
Yoga dan Meditasi di Candi Plaosan: Harmoni Alam dan Jiwa di Tengah Lanskap Budaya Adiluhung
Lokalpress,id, Klaten — Keindahan Candi Plaosan di Desa Plaosan, Bugisan, Klaten, kembali hidup dengan kegiatan spiritual bernuansa budaya. Museum dan Cagar Budaya (MCB) di bawah Kementerian Kebudayaan menggelar “Yoga dan Meditasi: Harmoni Alam dan Jiwa”, sebuah aktivitas yang menyatukan unsur seni, spiritualitas, dan pelestarian warisan leluhur. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Aktivasi Cagar Budaya, yang bertujuan mengaktualisasikan nilai penting situs bersejarah agar dapat diapresiasi masyarakat luas. Melalui perpaduan aspek ilmiah (scholarly), spiritual, dan hiburan (entertainment), Candi Plaosan dihadirkan bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi juga ruang refleksi dan keseimbangan diri. Situs Candi Plaosan sendiri merupakan warisan abad IX Masehi yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Garung dan disempurnakan oleh Rakai Pikatan bersama Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra. Kompleks percandian kembar ini memiliki dua candi induk, 72 candi perwara, 268 stupa, serta parit dan lanskap sawah yang berpadu serasi dengan panorama Gunung Merapi di utara dan perbukitan breksi di selatan. Peserta Yoga dan Meditasi akan diajak menyelaraskan tubuh, pikiran, dan jiwa di tengah keindahan siluet candi saat matahari terbenam. Kolaborasi kegiatan ini melibatkan Outdoor Yoga Club dan Forest Therapy, serta didukung berbagai sponsor seperti Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Hotel Cavinton, Jamu Bu Kawit, Dapur Alit, Swara Santi, Dermacology, Wellnessantara, dan Lokalpress.id. Selain relaksasi, peserta juga berkesempatan mendapatkan doorprize dan voucher menarik dari para mitra pendukung. Kegiatan ini digelar untuk menyemarakkan Bulan Batik dan Kebudayaan 2025, sekaligus memperkenalkan Candi Plaosan sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya unggulan Jawa Tengah. Melalui kegiatan ini, MCB berharap masyarakat dapat semakin memahami makna keseimbangan antara manusia dan alam, sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya Plaosan. “Yoga dan meditasi di Candi Plaosan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi pengalaman batin yang menyatukan harmoni alam, jiwa, dan sejarah,” ujar salah satu panitia kegiatan. informasi kegiatan : 🗓 Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15.30 WIB 📍 Candi Plaosan 👕 Dress code: atasan putih, bawahan hitam + kain jarik batik Agenda: 🕊 Walking Tour Candi Plaosan – menapaki jejak warisan leluhur 🧘♂️ Hatha Yoga bersama Coach Ketut Artana 🌸 Meditasi Kasih bersama Dr. Herin (Forest Therapy) 🍃 Menikmati Kudapan Tradisional Pendaftaran: https://bit.ly/YogaMeditasiCandiPlaosan Informasi: 08112652557
Sadar Risiko, Siap Layanan: GIPI DIY Dorong Standar Keamanan Wisata di Pantai Glagah
Lokalpress.id, Kulon Progo — Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Sosialisasi Standar Usaha Jasa Pariwisata Risiko Menengah Tinggi di kawasan Pantai Glagah, Temon, Kulon Progo, Kamis (16/10). Kegiatan yang mengusung tema “Sadar Risiko, Siap Layanan” ini bertujuan menumbuhkan kesadaran pentingnya penerapan standar keselamatan dan operasional di sektor pariwisata berisiko, seperti wisata petualangan, wisata bahari, maupun aktivitas wisata di kawasan rawan bencana. Ketua Bidang ODTW & Event DPD GIPI DIY, Agus Budi Rachmanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi sekaligus langkah konkret untuk memperkuat profesionalisme dan tanggung jawab pelaku wisata. “Pariwisata bukan sekadar ekonomi, tapi juga soal keselamatan jiwa dan keberlanjutan lingkungan. Semua pihak harus berperan, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, hingga wisatawan,” tegasnya. Dalam sosialisasi tersebut, peserta diajak memahami klasifikasi risiko menengah tinggi berdasarkan regulasi nasional seperti PP No. 5 Tahun 2021 dan Permenparekraf No. 4 Tahun 2021, sekaligus mempelajari SOP minimal yang wajib dimiliki pelaku usaha, meliputi legalitas usaha, pelatihan SDM bersertifikat BNSP, penggunaan alat keselamatan berstandar SNI, hingga prosedur evakuasi dan pelaporan rutin ke Dinas Pariwisata. Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya sinergi multipihak dalam penyusunan kebijakan daerah terkait standar usaha wisata berisiko tinggi, penguatan skema asuransi dan alat keselamatan, serta pembentukan Pusat Informasi Risiko Wisata berbasis digital di DIY. Melalui gerakan “Sadar Risiko, Siap Layanan”, GIPI DIY berharap seluruh pelaku pariwisata semakin siap memberikan pelayanan aman, berkualitas, dan berkelanjutan bagi wisatawan. “Pariwisata yang berkualitas lahir dari keberanian untuk berkata: kita siap, kita aman, dan kita bertanggung jawab,” tutup Agus dalam refleksinya di tepi Pantai Glagah sore itu.