Lokalpress.id, Yogyakarta – Dipimpin oleh Chair Woman JCWF 2025: GKR Bendara, Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 kembali mempersembahkan sebuah perjalanan penyembuhan dan perjumpaan budaya dalam WEEK #5, yang berlangsung pada Sabtu, 29 November 2025. Di bawah kepemimpinan visioner GKR Bendara sebagai Chair Woman JCWF 2025, festival ini menghadirkan rangkaian program yang menautkan estetika budaya Jawa dengan praktik wellness kontemporer, menghasilkan sebuah pengalaman yang refined, holistik, dan menggugah. Rangkaian Penyembuhan Berakar pada Tradisi Jawa Agenda dibuka dengan sesi “Rahasia Cantik Nusantara” bersama Martha Tilaar, yang mengajak peserta menelusuri filosofi lulur kuning Jawa. Dalam budaya Jawa, kecantikan adalah harmoni antara raga, rasa, dan budi, suatu kesadaran yang kembali ditegaskan melalui sesi ini. Jemparingan kemudian hadir sebagai ruang disiplin batin. Melalui gerak dan hening, peserta belajar tentang fokus, ketepatan, serta kehadiran penuh, nilai-nilai yang telah diwariskan leluhur Jawa sebagai latihan keseimbangan diri. Perpaduan Seni, Healing, dan Kontemplasi Kolaborasi Sound Healing DHF X Macapat for Souls menjadi momen kontemplatif yang mendalam. Frekuensi healing berpadu dengan lantunan macapat sarat falsafah, menciptakan ruang refleksi yang meresap hingga ke inti kesadaran. Warisan herbal Nusantara dihadirkan melalui Workshop Jamu by Lokanusa, bukan hanya memperkenalkan proses peracikan jamu, melainkan juga kearifan yang menyertainya, bahwa setiap ramuan mengandung nilai keseimbangan antara tubuh, alam, dan energi kehidupan. Di sore hari, Terapi Seni & Eksplorasi Inner Child X Breathwork serta Mindfulness Talk memberi ruang bagi peserta untuk menjelajahi dunia batin. Keduanya membuka pengalaman self-healing yang lembut namun signifikan, mengajak peserta menyelami lapisan-lapisan emosi yang kerap terabaikan. Program Spesial: Sacred Axis Healing Retreat Sacred Axis Healing Retreat menjadi rangkaian khusus yang berlangsung sepanjang hari. Retreat ini dirancang sebagai perjalanan kembali ke poros kesadaran terdalam, poros yang disebut masyarakat Jawa sebagai titik keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa. Melalui meditasi, pernapasan, dan aktivasi energi, para peserta diberi ruang untuk mengalami transformasi personal yang sunyi namun kuat. Ruang bagi Pelaku Wellness dan Kreativitas Lokal WEEK #5 juga menjadi momentum bagi para pelaku industri wellness untuk menampilkan karya terbaiknya melalui Wellness Artisan Market, yang menampilkan tenant terkurasi dari brand nasional hingga komunitas budaya lokal. Di antaranya: Mustika Ratu, Taman Sari Spa, Martha Tilaar Spa & Roemah Martha Tilaar, Nurkadatyana Spa, Pasar Wiguna, Fairy Kale Vegan Food, Peken Klangenank Kotagede, Desa Wisata Nganggring, PPWI, Dharma Usada, Access Bars, Atibhagya, hingga UMKM Asram. Keberagaman tenant ini menunjukkan bahwa sektor wellness berbasis budaya telah berkembang menjadi ekosistem kreatif yang dinamis, inklusif, dan berkelanjutan. Perayaan Budaya sebagai Penutup Hari Hari ditutup dengan kehangatan musikal Orkes D’Growol, yang menghadirkan suasana akrab dan merayakan identitas Yogyakarta. Musik menjadi jembatan yang menyatukan peserta setelah satu hari penuh proses healing dan refleksi. Kepemimpinan GKR Bendara sebagai Chair Woman JCWF 2025: Visioner, Halus, dan Berakar Kehadiran GKR Bendara sebagai Chair Woman memberi karakter tersendiri bagi JCWF 2025. Beliau membawa visi bahwa wellness harus kembali kepada akar budaya, identitas lokal, dan nilai-nilai luhur yang membentuk manusia Jawa. Dalam pandangan beliau, penyembuhan bukan sekadar praktik, tetapi proses kembali pulang kepada jati diri. Di bawah kepemimpinannya, JCWF WEEK #5 tampil sebagai ruang pembelajaran, ruang kolaborasi, dan ruang transformasi, tempat tradisi, seni, dan kesadaran modern saling berkelindan untuk membentuk pengalaman wellness yang berkelas dan bermakna. (Adv)
Kunto Aji Comeback di JCWF! Malam Pemulihan Jiwa yang Wajib Kamu Alami
lokalpress.id, Yogyakarta – Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai kota budaya sekaligus destinasi wellness yang penuh kehangatan melalui penyelenggaraan Night Healing Music Concert, salah satu program unggulan dalam rangkaian Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025. Konser ini akan digelar pada Minggu, 30 November 2025, pukul 16.00–21.00 WIB, di Asram Edupark, ruang terbuka hijau yang dipilih secara khusus untuk menjaga kualitas energi, kesejukan alam, dan kenyamanan pengalaman healing. Kunto Aji: Suara Penyembuh Generasi Masa Kini Panggung utama malam healing ini dipimpin oleh sosok yang telah menjadi ikon perjalanan batin banyak pendengar Indonesia: Kunto Aji. Melalui karya-karyanya, ia telah menghadirkan bahasa baru dalam musik Indonesia, bahasa yang menenangkan, merangkul, dan menyembuhkan. Dengan karakter vokal yang hangat, lirik yang jujur, serta aransemen yang bernuansa meditatif, Kunto Aji bukan sekadar tampil sebagai musisi, tetapi sebagai medium healing yang membuka ruang introspeksi bagi siapapun yang mendengarkan. Karya-karya seperti yang ia bawakan selama ini telah dikenal mampu menyentuh ruang terdalam manusia: ruang yang sering kali terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Pada Night Healing Music Concert, Kunto Aji akan menyajikan set khusus yang dirancang untuk mengundang rasa tenang, kehadiran penuh (mindfulness), dan pengalaman emosional yang menuntun audiens untuk “pulang” ke diri sendiri. Musik yang ia hadirkan bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan, sebuah perjalanan batin yang lembut, pelan, namun mengakar. Kehadiran Kunto Aji menjadi inti dari keseluruhan penyusunan konser ini, sehingga setiap elemen visual, tata cahaya, atmosfer senja, dan rangkaian pendukung dipilih untuk memperkuat esensi penyembuhan yang ia bawa. Pengalaman Multidisipliner: Musik, Gerak, dan Tradisi Sebelum memasuki segmen utama bersama Kunto Aji, penonton akan disambut oleh: Ayom Satria, saksofonis muda dengan karakter nada melankolis dan atmosferik. Tiupan saksofonnya menjadi pembuka kesadaran, membangun suasana yang pelan-pelan menuntun audiens memasuki mode relaksasi. Gangsadewa, kelompok musik yang memadukan instrumen tradisi dan modern, menghadirkan tekstur suara etnik kontemporer yang mengakar pada filosofi Jawa. Ritme mereka mengajak penonton merasakan hubungan manusia dengan tanah, alam, dan harmoni sosial. Sanggar Seni Kinanti Sekar, yang membawa tarian klasik Jawa sebagai representasi kehalusan rasa, disiplin tubuh, dan keanggunan budaya. Geraknya pelan, lembut, tetapi sangat kuat, menghadirkan kualitas mindful movement yang menjadi bagian integral dari proses healing. Setiap penampil bukan sekadar mengisi panggung, melainkan menjadi bagian dari alur penyembuhan malam itu: dari pembukaan, peralihan suasana, hingga klimaks emosional bersama Kunto Aji. Yogyakarta, Wellness, dan Harmoni Budaya Night Healing Music Concert bukan hanya konser musik, ia adalah ruang pemulihan kolektif yang dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai welas asih, keseimbangan, dan keheningan yang menjadi inti filosofi Jawa. Melalui sinergi musik modern dan seni tradisi, konser ini memperlihatkan bagaimana Yogyakarta mampu mengolah budaya sebagai energi penyembuh. Program ini juga menjadi bagian dari Wonderful Indonesia Wellness, yang mengangkat Yogyakarta sebagai destinasi wellness berbasis budaya yang autentik dan relevan bagi masyarakat modern. Dalam suasana malam yang hangat, ditemani cahaya lembut dan angin yang bergerak pelan di antara pepohonan Asram Edupark, penonton diundang untuk menyambut keheningan, merasakan resonansi suara, dan menikmati perjalanan batin bersama Kunto Aji, sebuah pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memulihkan. Pesan Akhir: Malam untuk Menemukan Diri Night Healing Music Concert adalah undangan untuk berhenti sejenak. Untuk mendengarkan. Untuk merasakan. Dan untuk merawat diri. Kunto Aji menjadi poros dari malam ini, mengajak setiap orang yang hadir untuk tersenyum lebih tulus, bernapas lebih ringan, dan pulang dengan hati yang lebih utuh. Tiket dan informasi lengkap tersedia melalui kanal resmi JCWF 2025. (Adv) BELI TIKET RESMI KLIK DISINI
Sacred Axis Retreat: GKR Bendara Menyatukan Tradisi, Kesadaran, dan Transformasi Diri
SACRED AXIS RETREAT : Deep Meaning and Experience Culture, Gunung Merapi – Keraton Yogyakarta – Pantai Selatan, Dipimpin oleh Chairwoman JCWF 2025 #5: GKR Bendara, Sabtu, 29 November 2025 | 05.30 – 16.00 WIB Lokalpress.id, Yogyakarta – Sacred Axis Retreat adalah perjalanan kontemplatif yang merangkum inti kosmologi Yogyakarta: hubungan harmonis antara manusia, alam, dan ruang budaya yang membentuk kesadaran Jawa. Di bawah kepemimpinan GKR Bendara, Chairwoman JCWF 2025 Week #5, retreat ini dikurasi dengan pendekatan penuh kehalusan rasa, ketelitian budaya, dan visi wellness yang menyatukan tradisi dengan transformasi pribadi. Merapi – Keraton – Laut Selatan: Poros Sakral yang Menghidupkan Kesadaran Retreat ini mengikuti alur Poros Sakral Yogyakarta, garis filosofis yang mencerminkan perjalanan batin manusia: Merapi sebagai simbol kekuatan dan pembersihan, Keraton Yogyakarta sebagai pusat harmoni dan tata nilai, Laut Selatan sebagai ruang pelepasan, transformasi, dan penyempurnaan. Poros ini bukan sekadar rute geografis; ia adalah lanskap makna yang telah menjadi fondasi spiritual masyarakat Jawa selama berabad-abad. Pagi di Merapi: Menjernihkan dan Memulai dari Keheningan Dimulai pada pukul 05.30, para peserta memasuki atmosfer Merapi melalui Padusan, Laku Lampah, dan Semadi Suwung, praktik yang membawa peserta melebur dalam kesunyian yang justru membuka ruang pemulihan. Dalam ajaran Jawa, suwung adalah keadaan kembali pada asal, tempat di mana manusia dapat melihat dirinya dengan jernih tanpa suara dunia yang mengganggu. Di kaki Merapi, setiap langkah menjadi penyucian, setiap tarikan napas menjadi doa. Keraton Yogyakarta: Ruang Tertata, Rasa yang Terkelola Retreat berlanjut ke jantung budaya Yogyakarta. Di Keraton, peserta tidak hanya melihat budaya, mereka mengalaminya secara langsung melalui: Prosesi penyelarasan Tari Klasik, Pembacaan Macapat, Pendampingan Abdi Dalem dalam ritual budaya. Di bawah perhatian GKR Bendara, rangkaian ini ditekankan sebagai proses inner governance: bagaimana manusia belajar menata batinnya sebagaimana budaya menata ruang dan kehidupan. Keraton menjadi cermin bahwa harmoni tercipta melalui sikap halus, ritme yang terukur, dan penghormatan terhadap nilai. Laut Selatan: Melepaskan, Menyempurnakan, dan Meneguhkan Niat Baru Di Parangkusumo, retreat mencapai puncaknya. Suara ombak menjadi pengingat bahwa hidup adalah gerak yang datang dan pergi, dan manusia memerlukan ruang untuk melepaskan. Melalui Ruwatan dan Laku Larungan, peserta diajak meninggalkan beban yang telah usai dan menyatakan niat baru untuk perjalanan hidup mereka. Ritual ini sekaligus menutup lingkaran perjalanan Merapi–Keraton–Laut, mengembalikan peserta ke kehidupan dengan hati yang lebih ringan, bening, dan terarah. Sebuah Karya Budaya untuk Penyadaran Diri Sacred Axis Retreat bukan sekadar kegiatan; ia adalah pengalaman budaya yang menghidupkan kembali rasa. Di bawah kepemimpinan GKR Bendara, retreat ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi leluhur dan kebutuhan manusia modern untuk menemukan keseimbangan. Ia mengingatkan kita bahwa kesakralan tidak pernah jauh, ia hadir dalam langkah yang sadar, dalam hening yang diterima, dan dalam budaya yang dijalani dengan penuh hormat. Pendaftaran Sacred Axis Retreat Klik tautan berikut untuk reservasi resmi: 👉Tiket dan Reservasi Resmi KLIK DISINI Yogyakartra 25 Nov 2025 (Adv)
Natural Beauty & Family Wellness Jadi Sorotan GKR Bendara di JCWF 2025 #4
Lokalpress.id, Yogyakarta — Gelaran Jogja Culture Wellness Festival (JCWF) 2025 #4 kembali menghadirkan dialog strategis mengenai arah besar wellness Nusantara. Mengangkat tema “Natural Beauty, Family and Inner Child”, rangkaian sesi yang berlangsung di Mustika Yogyakarta Resort & Spa ini menyoroti bagaimana keindahan alam, relasi keluarga, dan penyembuhan batin menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem wellness modern. Sesi diskusi utama bertajuk “Wellness Tourism & Kolaborasi Komunitas” mempertemukan pelaku industri pariwisata, pengelola destinasi heritage, praktisi leluhur Jawa, dan tenaga kesehatan. Kehadiran berbagai perspektif menunjukkan bahwa wellness hari ini bukan hanya tren, tetapi transformasi sosial yang menyentuh tubuh, pikiran, keluarga, dan kesadaran kolektif. Statement GKR Bendara: Wellness sebagai Gerakan Kesadaran Dalam pembukaan,GKR Bendara, Chairwoman JCWF 2025, menegaskan pentingnya menjadikan Yogyakarta sebagai pusat gravitasi wellness Nusantara, tempat tradisi, inovasi, dan sains bertemu dalam satu tarikan napas budaya. Beliau menyampaikan: “Wellness bukan sekadar tren, tetapi gerakan kesadaran. Yogyakarta memiliki modal spiritual, historis, dan kultural untuk menjadi rumah bagi transformasi ini. JCWF adalah jembatan antara tradisi dan masa depan, menghubungkan pengetahuan leluhur dengan sains modern untuk memuliakan tubuh, pikiran, dan jiwa.” Pernyataan tersebut memperkuat relevansi tema “Natural Beauty, Family and Inner Child” yang menekankan pemulihan diri, penguatan relasi keluarga, serta rekoneksi manusia dengan alam dan akar budaya. Kolaborasi Lintas Bidang: Dari Industri hingga Medis Diskusi kemudian menghadirkan empat narasumber: Fadli Fahmi Ali (CEO Werkudara Group) “menyoroti meningkatnya permintaan perjalanan wellness berbasis pengalaman bermakna dan budaya.” Dewi Soesilowati (Rumah Atsiri Indonesia) “memaparkan kekuatan botanical & heritage sebagai medium penyembuhan dan storytelling.” Seno Jati (Cakra Tri Sad Nawa) “menjelaskan laku penyembuhan Jawa berbasis energi, harmoni, dan keseimbangan batin.” dr. Herin (Forest Therapy Indonesia) “menekankan urgensi pendekatan ilmiah dalam forest therapy dan praktik kesehatan holistik.” Keempat perspektif tersebut menguatkan arah besar JCWF 2025 #4, bahwa wellness harus dimaknai sebagai perjalanan pulang ke diri, yang mencakup kealamian, hubungan keluarga, dan penyembuhan inner child sebagai bagian dari kebudayaan. Yogyakarta Menuju Ekosistem Wellness yang Berkelanjutan Moderator diskusi, Agus Budi Rachmanto, merangkum bahwa Yogyakarta memiliki seluruh komponen untuk menjadi living laboratory wellness Indonesia: tradisi yang kuat, alam yang kaya, komunitas yang aktif, dan pendekatan sains yang terus berkembang. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci. Wellness bukan hanya tentang program, tetapi tentang ekosistem,” tegasnya. Natural Beauty, Family, Inner Child, Arah Baru Wellness Nusantara Melalui JCWF 2025 #4, Yogyakarta menegaskan bahwa masa depan wellness tidak hanya bertumpu pada program kesehatan, tetapi pada pemulihan hubungan: hubungan manusia dengan alam, dengan keluarga, dan dengan dirinya sendiri. Dengan visi yang dipandu GKR Bendara, JCWF menjadi ruang edukasi, inovasi, dan gerakan budaya yang mendorong Indonesia menuju masa depan wellness yang lebih holistik, berakar pada nilai lokal, dan relevan secara global. (Adv)
Di Balik Panggung Otentik The Show #2: Cerita Perjalanan dan Transformasi Para Talent
Lokalpress.id, Yogyakarta – Menjelang pelaksanaan Otentik The Show #2 pada 30 November 2025 di Jawir Creatif Communal Space, para peserta Kelas OtentikLab Batch 2 dan Batch 3 OtentikLab tengah mempersiapkan penampilan terbaik mereka. Namun lebih dari sekadar pertunjukan, acara ini merekam proses panjang transformasi para talent selama mengikuti pelatihan. Founder OtentikLab, Aji Bayu, menuturkan bahwa banyak peserta OtentikLab Batch 2 dan Batch 3 yang pada awalnya datang dengan rasa ragu dan minim pengalaman. “Kami melihat perubahan nyata pada diri mereka. Ada yang awalnya pemalu, kini berani tampil. Ada yang datang tanpa dasar, kini bisa mengolah gesture dan ekspresi dengan percaya diri,” kata Aji. Sementara itu, kehadiran puluhan desainer lokal juga memberi pengalaman baru bagi talent yang akan memperagakan karya-karya mereka. Show Director, Agus Pratitis, menyatakan bahwa model juga dilatih agar mampu mempresentasikan karya desainer dengan baik. “Model mesti memahami karakter karya tersebut dan cara membawanya. Dan tentu harus dibawakan dengan tulus,” ujar Agus. Banyak desainer, lanjut Agus, yang membawa eksplorasi menarik dalam karya mereka. Semua dieksplorasi untuk model hijab, non hijab, dan pria. “Semua punya cara sendiri untuk bercerita,” tuturnya. Acara bertajuk “Pop Out: The Casual Street Parade” ini diharapkan menjadi awal dari perjalanan emosional para talent sebelum mereka melangkah ke kesempatan berikutnya. Citizen Jurnalis : Tsaqif Al Adzin Imanulloh
JCWF 2025 Week #4: GKR Bendara Integrasikan Seni, Budaya, dan Alam untuk Healing Keluarga
Lokalpress.id, Yogyakarta – Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 memasuki WEEK #4 dengan menegaskan kembali posisi Yogyakarta sebagai laboratorium kultural bagi pengembangan wellness tourism berbasis nilai-nilai lokal. Melalui tema “Natural Beauty, Family & Inner Child”, festival ini tidak sekadar menawarkan program hiburan, tetapi mengintegrasikan pendekatan interdisipliner yang melibatkan aspek pendidikan, kesehatan holistik, psikologi budaya, hingga ekologi manusia. Di bawah kepemimpinan GKR Bendara sebagai Chairwoman JCWF 2025, festival ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman bahwa konsep wellness masa kini harus berpijak pada kearifan budaya sebagai fondasi identitas kolektif. Pendekatan tersebut sejalan dengan kecenderungan akademik global yang menempatkan budaya sebagai determinan penting dalam praktik well-being, social resilience, dan penguatan kualitas hidup masyarakat. Dialog Akademik dan Penguatan Literasi Wellness Sesi Talkshow I dan II menghadirkan diskursus terkait pendidikan karakter dan konstruksi pengalaman wellness yang berlandaskan seni, budaya, dan alam. Talkshow I, bertema “Membangun Karakter Anak dengan Aktivitas Seni, Budaya, dan Alam”, menggarisbawahi bagaimana interaksi anak dengan ruang budaya mampu membentuk modal sosial, kepekaan emosional, serta integritas personal. Talkshow II, “Wellness Networking: Merangkai Pengalaman Wellness yang Berbasis Budaya”, memfasilitasi dialog lintas disiplin antara praktisi, akademisi, dan pelaku industri untuk memperkaya ekosistem wellness yang bersifat kolaboratif dan inklusif. Kedua diskursus ini menegaskan posisi JCWF sebagai ruang intelektual yang mendorong integrasi antara teori dan praktik, antara pengetahuan tradisional dan keilmuan modern. Workshop sebagai Ruang Translasi Pengetahuan Serangkaian workshop, mulai dari relaksasi head & hand massage, tes kepribadian, mindful brewing, hingga pengelolaan sampah organik menjadi pupuk, berfungsi sebagai laboratorium partisipatif di mana pengetahuan akademik diterjemahkan ke dalam praktik keseharian. Program Mindful Brewing (coffee & matcha), misalnya, mencerminkan pendekatan fenomenologis tentang bagaimana aktivitas sederhana dapat menjadi medium pemulihan kesadaran dan peningkatan kehadiran diri (presence). Sementara itu, workshop pengolahan sampah organik menempatkan wellness dalam perspektif ekologis, mengingat bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Pendekatan transdisipliner ini sejalan dengan visi GKR Bendara untuk memfasilitasi model wellness yang tidak hanya estetis, tetapi juga berorientasi pada pendidikan, pemberdayaan, dan keberlanjutan. Dimensi Filosofis: Inner Child dalam Perspektif Jawa Tema Inner Child diperkaya dengan pembacaan filosofis terhadap tradisi Jawa. Konsep mulih maring asal dan ajaran ngerti, ngrasa, nglakoni menggarisbawahi pentingnya kembali pada ketenangan batin sebagai prasyarat kematangan psikologis dan spiritual. Rangkaian program ini merefleksikan pemahaman bahwa wellness bukanlah entitas tunggal, melainkan proses multidimensi yang menyentuh aspek tubuh, rasa, pikiran, dan laku. Perspektif ini selaras dengan arah kebijakan GKR Bendara yang memandang wellness berbasis budaya sebagai instrumen transformasi sosial yang lembut namun fundamental. Yogyakarta sebagai Pusat Inovasi Wellness Berbasis Budaya Dengan dukungan Yogyakarta Tourism Board dan berbagai mitra, WEEK #4 memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi wellness yang menggabungkan estetika budaya, pendekatan ilmiah, dan pengalaman edukatif. Model ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi pengembangan pariwisata yang lebih humanis, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas hidup. Sebagaimana ditegaskan GKR Bendara, “Wellness adalah perjalanan kesadaran yang bertumpu pada hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.” WEEK #4 merepresentasikan gagasan tersebut melalui program yang terstruktur, bernilai akademis, dan memiliki kedalaman reflektif yang kuat. (adv)
Bangkitkan Energi Positif di Candi Plaosan: Meditasi & Qigong Hadirkan Harmoni Jiwa dalam Momen Bersejarah 22 November 2025
Lokalpress.id, Klaten – Di tengah senyap senja dan megahnya arsitektur abad ke-8, Candi Plaosan berdiri sebagai saksi abadi persatuan dua peradaban: Hindu dan Buddha. Dibangun pada masa Rakai Garung dan disempurnakan oleh Rakai Pikatan serta Sri Kahulunan, Plaosan memancarkan filosofi tentang harmoni, bahwa dua kekuatan yang berbeda dapat saling melengkapi dan menciptakan keindahan yang melampaui zaman. Plaosan bukan hanya candi; ia adalah lanskap budaya yang adiluhung. Di sinilah keselarasan spiritual, keunggulan lingkungan, dan kecerdasan leluhur menyatu, membentuk ruang refleksi yang pantas kita jaga bersama. Melalui program Aktivasi Cagar Budaya, Museum dan Cagar Budaya (MCB) mengajak masyarakat untuk tidak sekadar melihat, tetapi mengalami nilai penting dari warisan leluhur ini, melalui pendekatan ilmiah, spiritual, dan pengalaman yang menggugah. Salah satu aktivasi yang kini hadir dan terbuka bagi publik adalah Meditasi dan Qigong “Harmoni Alam dan Jiwa”, sebuah paket wellness yang mengajak peserta menyelaraskan napas, energi, dan kesadaran di tengah suasana Plaosan yang hening dan penuh daya. Dalam semangat Bulan Pahlawan, peserta diajak untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri, menghormati tubuh, memulihkan batin, dan menyadari kekuatan hidup yang selama ini tersembunyi di dalam diri. * Melalui Qigong, energi kehidupan (Qi) dipandu untuk mengalir lebih seimbang. * Melalui meditasi, pikiran diajak melembut dan hati dibuka untuk menumbuhkan kasih. Di bawah langit Plaosan, keduanya berpadu—menjadi perjalanan batin yang memulihkan, meneguhkan, dan membangkitkan kesadaran baru. Program ini dipandu oleh dua praktisi berpengalaman: * Rita Gumilar (Green Dragon Qi Gong Community) – praktisi Qigong * d.r. F.R. Herin, M. Biomed – dokter kesehatan holistik, hipnoterapis klinis, Founder Forest Therapy Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi komunitas Outdoor Yoga Club dan Forest Therapy, serta didukung oleh para mitra yang turut memberikan doorprize dan voucher bagi para peserta: Wastraning, Omah Dhuwur, Swara Shanti, Jamu Bu Kawit, wellnessantara.com, dan Lokalpress.id. ✨ Sabtu, 22 November 2025 | Pukul 15.15 WIB – selesai ✨ Candi Plaosan Mari hadir, menyatu, dan menemukan kembali pahlawan dalam diri, melalui keheningan, gerak, dan energi yang berpadu dalam harmoni alam. Daftar sekarang: 👉 https://bit.ly/YogaMeditasiCandiPlaosan
JCWF 2025 Week #3, Rayakan Keseimbangan Diri Lewat Spiritual Wellness & Energy Healing
Lokalpress.id, Yogyakarta — Jogja Culture Wellness Festival (JCWF 2025) kembali melanjutkan rangkaian programnya. Pada 15 November 2025, JCWF memasuki WEEK #3, Spiritual Wellness & Energy Healing, berlokasi di Mustika Yogyakarta Resort & Spa. Program ini merupakan salah satu kegiatan kurasi inti yang dipimpin langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, selaku Ketua JCWF 2025. JCWF 2025 merupakan inisiatif terintegrasi yang menyatukan budaya, wellness, dan spiritualitas untuk memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Cultural Wellness Hub di tingkat Asia. “JCWF bukan sekadar festival, melainkan ruang pulang, tempat budaya, spiritualitas, dan penyembuhan saling menyapa.” GKR Bendara, Ketua JCWF 2025 PENGALAMAN PENYEMBUHAN TERKURASI DALAM SATU HARI Program Spiritual Wellness & Energy Healing menghadirkan rangkaian aktivitas berbasis mindfulness, kesadaran, dan energi Nusantara, dipadukan dengan pendekatan penyembuhan modern. 1. Talkshow Spiritual & Energi Diskusi lintas praktisi mengenai kesadaran, penyembuhan energi, dan transformasi diri di era digital. 2. Workshop Energi, 3 Zona Aktivasi – Meeting Room 1 – Meeting Room 2 – Outdoor Healing Terrace Tema workshop antara lain: – Gendam Tanpo Wicoro – Melukat Sukma – Terapi Suwung – Anapana Meditation – Yoga Jawa – Access Bars (Ciptakan Ruang, Peluang, dan Uang) – Crystal Ball Healing – Jemparingan Kesadaran Keraton – Reconnecting with The Spirit World 3. Booth Healing, 1 on 1 Private Session Termasuk: – Konsultasi Tarot & Palmistry – Bekam Konsultasi Energi ala Bars – Terapi Suwung – Rukyah & pitungan Jawa 4. Special Performance: Mocopat Kesadaran Performa interaksi energi melalui musik dan frekuensi sebagai proses grounding dan penyelarasan batin. YOGYAKARTA SEBAGAI DESTINASI WELLNESS SPIRITUAL ASIA Program ini menjadi momentum pergeseran besar: wellness tidak lagi hanya gaya hidup, tetapi kesadaran budaya. “Suwung dudu kosong. Suwung adalah ruang kembali ke pusat diri.”, Falsafah Jawa Melalui JCWF 2025, Yogyakarta semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi perjalanan batin (inner journey destination) dan pintu masuk menuju wisata kesadaran Asia. INFORMASI ACARA 📍 Lokasi: Mustika Yogyakarta Resort & Spa 🗓 Tanggal: 15 November 2025 ⏰ Waktu: 09.00 – 16.00 WIB 🎟 Free & Paid Session (By registration) Link pendaftaran resmi: 👉 https://jcwf-online.globaltix.com atau melalui website resmi: 🌐 www.jcwf.id Tentang JCWF 2025 JCWF (Jogja Culture Wellness Festival) adalah festival tahunan yang memadukan budaya, wellness, dan kesadaran. Festival ini terselenggara dalam beberapa minggu tematik, menghadirkan kolaborasi antara praktisi budaya, healer, akademisi, komunitas kreatif, hingga pelaku pariwisata. JCWF 2025 — Where Culture Meets Consciousness. Yogyakarta, The Rising Cultural Wellness Destination of Asia.
DIY Menuju Cultural Wellness Destination Asia: Sinergi Budaya dan Spiritualitas Jawa
Lokalpress.id, Yogyakarta – Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran signifikan menuju wellness tourism sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat. Wisata tidak lagi dipandang semata-mata sebagai aktivitas rekreasi, tetapi sebagai medium pemulihan diri (healing), peningkatan kualitas hidup, pengalaman berkesadaran, hingga transformasi personal. Dalam konteks tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki modal kultural yang kuat untuk memosisikan diri sebagai destinasi wellness berbasis budaya (cultural wellness destination), dengan keunggulan yang sulit ditiru daerah lain. 1. Karakter Kultural sebagai Fondasi Wellness Tourism Filosofi hidup Jawa yang mengedepankan harmoni antara raga–rasa–jiwa (trikon, sangkan paraning dumadi, dan tata titi tentreming urip), menjadikan nilai wellness di Yogyakarta bersifat holistik dan soul-based. Wellness di DIY bukan sekadar produk gaya hidup, tetapi memiliki akar pada kearifan lokal, spiritualitas, dan seni budaya. Hal ini memberikan diferensiasi yang jelas dibandingkan destinasi wellness berbasis tren modern. 2. Keunggulan Geografis dan Lanskap Alam Pendukung Healing Yogyakarta memiliki bentang alam yang ideal untuk aktivitas pemulihan dan kontemplasi: kaki Merapi, garis pantai selatan, kawasan perdesaan, sungai, hingga ruang hijau urban. Lanskap ini memperkuat potensi pengembangan nature-based wellness seperti forest healing, mindful trekking, eco-spiritual journey, dan rural wellness retreat. 3. Ekosistem Industri dan Kreativitas yang Mendukung DIY ditopang oleh ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang progresif, hotel, spa tradisional, praktisi herbal, retreat center, pelaku seni, UMKM lokal, komunitas mindfulness, hingga akademisi. Dalam lingkup ini, sinergi antara asosiasi pariwisata seperti PUTRI DIY dan GIPI DIY menjadi penting untuk mengarahkan inovasi produk, pemasaran, dan penguatan standar layanan wellness tourism di DIY agar kompetitif di level nasional dan internasional. 4. Peluang Ekonomi dan Tren Global Data Global Wellness Institute (GWI) menunjukkan pertumbuhan wellness tourism global mencapai ±20% per tahun. Wisatawan wellness merupakan high-value quality traveler dengan rata-rata belanja 130–150% lebih tinggi dibanding wisatawan konvensional. Dengan branding yang tepat, DIY berpotensi meningkatkan:lama tinggal wisatawan (length of stay), belanja berbasis pengalaman (experience spending), penyerapan tenaga kerja kreatif dan terapis, pemberdayaan UMKM jamu, herbal, kriya, dan kuliner sehat. 5. Relevansi Strategis Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 Dalam konteks penguatan positioning DIY sebagai destinasi wellness budaya, penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 menjadi momentum penting dan strategis. Festival ini menghadirkan pendekatan wellness yang berpijak pada nilai budaya Jawa, bukan sekadar adopsi tren global. Di bawah kepemimpinan GKR Bendara sebagai Ketua Panitia, JCWF 2025 memiliki legitimasi budaya dan daya tarik nasional-internasional. JCWF memainkan tiga peran utama: a. Katalis Branding dan Diplomasi Budaya Mempromosikan narasi bahwa Yogyakarta adalah pusat wellness berbasis budaya (cultural-based wellness origin), sehingga memperkuat daya saing destinasi. b. Platform Sinergi Ekosistem Festival menjadi ruang kolaborasi antara Keraton, pemerintah, asosiasi pariwisata, akademisi, pelaku industri, kreator seni, dan komunitas untuk mengembangkan produk, event, dan paket wisata wellness terpadu. c. Edukasi Publik dan Transformasi Mindset Menggeser persepsi wellness dari sekadar gaya hidup menjadi nilai budaya dan kebutuhan peradaban modern guna membangun masyarakat berimbang dan berkesadaran. 6. Arah Pengembangan dan Dampak Jangka Panjang Dengan penguatan event seperti JCWF, DIY berpotensi membangun: Roadmap Pengembangan Cultural Wellness Tourism 2025–2030, standardisasi produk wellness berbasis budaya, Jogja Cultural Wellness Hub sebagai pusat riset, inovasi, dan kolaborasi, paket wisata wellness integratif di level kabupaten/kota. DIY memiliki potensi kuat untuk menjadi rujukan Cultural Wellness Destination tingkat nasional bahkan Asia. Penguatan positioning ini membutuhkan sinergi lintas pemangku kepentingan, edukasi publik, dan inovasi berkelanjutan. JCWF 2025 hadir bukan hanya sebagai festival, tetapi gerakan transformasi budaya wellness yang selaras dengan karakter, jati diri, dan masa depan pariwisata Yogyakarta.
Dipimpin GKR Bendara, JCWF 2025 Bawa Semangat “Eco-Friendly Living” dari Jogja ke Dunia
Lokalpress.id, Yogyakarta — Get ready, Jogja’s going green — and glowing! Setelah gegap gempita Week 1 mengguncang media sosial, Jogja Culture Wellness Festival (JCWF) 2025 kembali hadir dengan energi baru. Week 2, yang digelar pada 8 November 2025 di Mustika Yogyakarta Resort & Spa, mengusung tema besar: “Eco-Friendly Living– A sustainable lifestyle that is practical and deeply connected with nature.” Dipimpin langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, selaku Ketua Panitia JCWF 2025 dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, JCWF tidak lagi sekadar festival, ini adalah gerakan kesadaran kolektif. Sebuah deklarasi bahwa wellness bukan tren mewah dari luar negeri, tapi akar budaya Nusantara yang siap mengguncang dunia. GKR Bendara: “Wellness Adalah Warisan, Bukan Kemewahan” Dengan visi elegan namun membumi, GKR Bendara membawa JCWF ke level yang belum pernah ada: “Kita tidak sedang menciptakan tren baru. Kita sedang menghidupkan kembali kearifan lama. Wellness itu bukan gaya hidup mahal, itu napas budaya kita.” Festival ini bukan hanya untuk para pencinta yoga dan herbal, tapi juga bagi siapa pun yang ingin hidup lebih sehat, sadar, dan bahagia, tanpa harus meninggalkan akar budaya Jawa. Week 2: Dari Workshop Batik hingga Yoga Ketawa — Semua Punya Misi! Week 2 JCWF 2025 dirancang bukan sekadar “acara”, melainkan pengalaman transformasi. Bayangkan kamu tertawa di bawah langit pagi lewat Yoga Ketawa, meracik warna dari daun dan tanah di Workshop Batik Pewarna Alami, atau menyalakan dupa buatan tanganmu sendiri di Jumbuh Meramu. Semua kegiatan dikemas artistik, menyentuh, dan penuh makna. Beberapa program paling diburu: Workshop Batik Pewarna Alami — Belajar filosofi batik dan warna alami yang menenangkan jiwa. Eco Talk: “Plastik Jadi Energi, Karbon Jadi Kreasi” — Mengubah limbah jadi peluang! Sedapur Salam: Memasak dengan Kesadaran — Masak sehat, tapi juga penuh cinta. Yoga Ketawa & Pilates Indoor — Melepaskan stres, menyeimbangkan energi. Jumbuh Meramu — Membuat dupa Nusantara, simbol penyatuan manusia dengan semesta. Setiap aktivitas bukan sekadar hiburan, tapi langkah kecil menuju dunia yang lebih sadar dan lestari. Wellness Marketplace: Surga Para Pecinta Alam dan Gaya Hidup Sehat Dari pukul 09.00–16.00, Wellness Marketplace jadi magnet utama. Puluhan pelaku UMKM dan brand hijau hadir, mulai dari Agrisouvenir, Fairy Kale Vegan Food, Wellness Kalimosodo Sardjito, Nurkadatyan Spa, hingga Trash Hero & Green Living Movement. Di sinilah budaya bertemu ekonomi, dan ekologi bertemu estetika. “Kita ingin masyarakat sadar bahwa belanja bisa jadi bentuk healing, asal bijak dan berpihak pada bumi,” ujar salah satu kurator pasar wellness. Viral Energy: Dari Jogja untuk Dunia JCWF 2025 Week 2 sedang jadi topik panas di media sosial! Tagar #EcoFriendlyJogja, #JCWF2025, dan #WellnessIsCulture mulai berseliweran, menunjukkan antusiasme publik terhadap festival berjiwa lokal, bergaung global. Konsep “Eco-Friendly Living” yang diusung JCWF menjadi seruan dunia baru: gaya hidup berkelanjutan yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menyentuh batin dan tradisi. Week 2 Bukan Sekadar Healing, Ini Revolusi Kesadaran Di bawah kepemimpinan GKR Bendara, JCWF 2025 mengajarkan satu hal penting: wellness adalah cara hidup, bukan jeda dari kehidupan. Festival ini menjadi ruang untuk pulang, pulang ke tubuh, ke budaya, ke bumi, dan ke kesadaran. Yogyakarta sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar kota wisata, melainkan poros spiritual dan budaya yang menyalakan gerakan global menuju hidup yang lebih harmoni. 📍 Info Penting 🗓️ Tanggal: Sabtu, 8 November 2025 📍 Tempat: Mustika Yogyakarta Resort & Spa 💚 Tema: Eco-Friendly Living — A sustainable lifestyle that is practical and deeply connected with nature Tiket: Gratis & berbayar mulai Rp60.000 – Rp350.000 (kuota terbatas) JCWF 2025 Week 2 bukan cuma festival, ini pernyataan: bahwa dari Yogyakarta, dunia akan belajar cara hidup yang lebih sehat, sadar, dan penuh cinta pada bumi. Don’t just heal — awaken.