Lokalpress.id, Yogyakarta – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Yogyakarta kembali berdenyut sebagai ruang perjumpaan. Kota budaya ini bersiap menyambut arus wisatawan yang datang membawa rindu akan kehangatan, keindahan, dan pengalaman yang berkesan. Di setiap sudutnya (dari jalan-jalan utama hingga kampung-kampung kecil) Jogja membuka diri bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi sebagai ruang hidup yang sarat nilai dan makna. Ketua DPD PUTRI DIY, GKR Bendara, mengingatkan bahwa momentum libur akhir tahun adalah saat di mana kebersamaan diuji dan kepedulian menjadi kunci. Kepadatan lalu lintas dan keramaian adalah konsekuensi dari tumbuhnya pariwisata, sektor yang selama ini menjadi penopang penting roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, beliau mengajak masyarakat lokal untuk menyikapinya dengan kesabaran dan kebijaksanaan, sebagai bagian dari gotong royong menjaga harmoni kota. Bagi Yogyakarta, pariwisata bukan sekadar angka kunjungan, melainkan perjumpaan antara manusia, budaya, dan ruang. Setiap wisatawan yang datang sejatinya membawa harapan dan pulang dengan cerita. Agar cerita itu indah, diperlukan kesadaran bersama, bahwa kenyamanan kota ini lahir dari sikap saling menghargai antara tuan rumah dan tamu. GKR Bendara juga menyampaikan pesan tegas namun penuh kehangatan kepada para wisatawan. Menikmati Yogyakarta berarti menghormati tata nilai yang telah lama dijaga. Tidak berfoto di tengah jalan, menggunakan trotoar sebagaimana mestinya, serta menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk penghormatan sederhana namun bermakna. Kesopanan dan kepedulian terhadap ruang publik bukan hanya aturan, melainkan cerminan etika berwisata yang beradab. Yogyakarta mengajarkan bahwa keindahan sejati tidak hanya terletak pada destinasi, tetapi pada cara kita memperlakukan tempat yang kita singgahi. Budaya Jogja hidup dalam sikap: dalam tutur kata yang lembut, dalam langkah yang tertib, dan dalam kesadaran untuk tidak meninggalkan sampah, baik secara fisik maupun sosial. Libur akhir tahun menjadi kesempatan untuk memperlambat langkah, meresapi suasana, dan merayakan keberagaman. Di tengah hiruk-pikuk kota, ada nilai-nilai luhur yang tetap dijaga: keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara keramahan dan ketertiban, antara menikmati dan merawat. Melalui pesan ini, GKR Bendara mengajak semua pihak untuk menjadikan Natal dan Tahun Baru sebagai momen wisata yang berkualitas, wisata yang memberi manfaat ekonomi, memperkuat citra budaya, serta meninggalkan kesan baik bagi siapa pun yang hadir. Ketika wisatawan merasa dihargai dan warga merasa dihormati, Yogyakarta akan terus tumbuh sebagai destinasi yang berkelas dan berkarakter. Selamat menikmati Yogyakarta di penghujung tahun. Datanglah dengan rasa hormat, nikmati dengan penuh kesadaran, dan pulanglah membawa kenangan yang baik, karena Jogja bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan untuk dipahami dan dijaga bersama
Ritual Wellness di Candi Sambisari: Menutup Tahun dengan Yoga, Meditasi, dan Kesadaran Diri
Lokalpress.id, Sleman – Menjelang akhir 2025, sebuah kegiatan berbasis wellness digelar di kawasan Candi Sambisari, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bertajuk Harmoni Alam dan Jiwa: Yoga & Meditasi Candi Sambisari, kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi akhir tahun yang memadukan praktik kebugaran holistik, meditasi, dan pengenalan warisan budaya. Acara tersebut akan berlangsung pada Sabtu, 20 Desember 2025, mulai pukul 14.30 hingga 19.30 WIB. Candi Sambisari dipilih sebagai lokasi karena nilai historis dan kedekatannya dengan alam. Situs peninggalan Mataram Kuno ini berada sekitar enam hingga tujuh meter di bawah permukaan tanah dan dikenal sebagai candi yang pernah terkubur selama ratusan tahun sebelum ditemukan kembali pada 1966. Rangkaian kegiatan diawali dengan penelusuran kawasan candi. Peserta diajak menyusuri area candi induk dan candi perwara, sekaligus mengenal struktur bangunan, ikonografi arca, serta kisah penemuan dan pemugaran Candi Sambisari. Sesi ini juga membuka ruang diskusi mengenai konteks sejarah dan budaya situs tersebut. Setelah penelusuran kawasan, peserta mengikuti sesi Yoga Dewata Nawa Sanga yang dipandu oleh Ketut Artana, Ketua Persatuan Praktisi Yoga Bhakti Nusantara (PPYBN) DIY. Yoga ini mengacu pada konsep Dewata Nawa Sanga, yang memandang sembilan penjuru mata angin sebagai manifestasi Ilahi yang juga diyakini hadir dalam tubuh manusia. Praktik dilakukan melalui teknik pernapasan, meditasi, dan penyelarasan energi dasar, dengan fokus pada keseimbangan batin dan kesadaran spiritual. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi journaling dan slow art bersama Fransisca Wulandari, konselor sekaligus pendiri Talk Mental Health ID. Dalam sesi ini, peserta diajak mengekspresikan pengalaman dan emosi melalui tulisan serta karya seni sederhana. Pendekatan yang digunakan bersifat inklusif dan reflektif, tanpa menekankan hasil visual, melainkan proses mengenali kondisi diri. Sebagai penutup, digelar Soul Vision Meditation yang dipandu oleh dr. Fransisca Herin AP, M.Biomed (AAM), hipnoterapis klinis dan pendiri Forest Therapy. Meditasi terpandu ini memadukan pendekatan mind–body medicine untuk membawa peserta ke kondisi relaksasi mendalam. Dalam sesi tersebut, peserta diajak melepaskan beban emosional yang tersisa sepanjang tahun dan menyusun visi pribadi untuk tahun berikutnya. Melalui rangkaian kegiatan ini, Harmoni Alam dan Jiwa menawarkan pendekatan refleksi akhir tahun yang menggabungkan praktik wellness dengan ruang kontemplasi berbasis alam dan sejarah. Kegiatan ini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin menutup tahun dengan cara yang lebih tenang dan sadar, sekaligus membangun kesiapan mental untuk memasuki tahun baru.
Industri Sablon dan Konveksi Masuk Fase Kritis, 2026 Jadi Ujian Nyata
Lokalpress.id, Yogyakarta – Upaya memperkuat kesiapan pelaku usaha sablon dan konveksi dalam menghadapi dinamika bisnis tahun 2026 terus digencarkan melalui kolaborasi lintas pelaku industri. Salah satu langkah konkret diwujudkan lewat Seminar Gaya Bisnis 2026, sebuah forum edukatif yang dirancang untuk mendorong adaptasi, inovasi, serta penguatan daya saing di tengah perubahan pasar dan perkembangan teknologi. Seminar ini terselenggara berkat dukungan penuh berbagai sponsor yang memiliki peran strategis dalam ekosistem industri tekstil, sablon, dan konveksi nasional. Panitia menyampaikan apresiasi kepada Sri Ratu Textile, Alfasol Ink, Nirwana Textile, Knitto Textile, Plasma Ink, Mior Printing, Alfatex Textile, CKP Textile, Grafika Tritunggal, Wild Kastem, Fabriku by Kenari, Joglo Residinomo, Talatof Sablon, Toko Baru, Bank BRI Bantul, Xtee Clothing, serta seluruh partisipan yang telah berkontribusi dan mempercayai kegiatan ini. Dukungan tersebut mencerminkan semangat kolaborasi industri yang tidak hanya bertujuan membantu pelaku usaha bertahan, tetapi juga mendorong mereka tumbuh secara strategis dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan bisnis ke depan. Seminar Gaya Bisnis 2026 diselenggarakan oleh Komunitas Guyub Sablon Bantul bekerja sama dengan HAAP Media, dan berlangsung di Hotel Horison Emerald Yogyakarta. Acara ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh pelaku usaha sablon, konveksi, UMKM kreatif, hingga calon pebisnis yang ingin terjun ke sektor industri kreatif berbasis tekstil. Dalam seminar ini, sejumlah praktisi dan narasumber dari industri kreatif dan konveksi berbagi wawasan seputar strategi adaptasi bisnis, penguatan branding, manajemen usaha yang efisien, hingga peluang pengembangan pasar menuju 2026. Salah satu materi menekankan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam merespons perubahan pola konsumsi, meningkatkan efisiensi produksi, serta memanfaatkan jejaring dan kolaborasi antarpelaku industri. Melalui forum ini, penyelenggara berharap tercipta ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mampu memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan industri sablon dan konveksi, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem bisnis kreatif nasional agar semakin adaptif dan kompetitif di masa depan.
Rama Sahid Bongkar Ancaman Bisnis Konveksi 2026, Ini Strategi Agar Tak Tumbang
Lokalpress.id, Yogyakarta – Dunia usaha konveksi dan sablon tengah menghadapi tekanan besar seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin digital. Tanpa adaptasi strategi, banyak pelaku usaha dinilai berisiko kehilangan pasar. Kondisi ini mengemuka dalam Seminar Gaya Bisnis 2026 yang digelar HAAP MEDIA berkolaborasi dengan Guyub Sablon Bantul di Yogyakarta. Acara yang berlangsung di Hotel Horison Emerald Yogyakarta, Minggu (14/12/2025), menghadirkan trainer dan konsultan bisnis Rama Sahid sebagai pemateri. Peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Bantul hingga luar wilayah seperti Lombok, Tangerang, dan Magelang. Dalam pemaparannya, Rama Sahid menegaskan bahwa persaingan bisnis konveksi tidak lagi dapat dihadapi dengan strategi lama. Menurutnya, pelaku usaha perlu membangun positioning bisnis yang jelas, memiliki diferensiasi, serta memperkuat branding digital. “Bisnis yang tidak memiliki posisi yang jelas akan mudah tergeser. Konsumen sekarang mencari vendor yang spesifik, cepat, dan bisa dipercaya,” ujar Rama Sahid. Ia menambahkan, Unique Selling Point (USP) menjadi fondasi penting agar usaha konveksi mampu bertahan di tengah kompetisi. Rama menilai, usaha skala kecil justru memiliki peluang besar untuk berkembang jika mampu menonjolkan keunikan, bukan sekadar bersaing harga. Selain itu, Rama juga menyoroti perubahan pola kepercayaan konsumen. Jejak digital berupa konten proses produksi, testimoni pelanggan, serta komunikasi yang responsif disebut sebagai faktor penentu dalam keputusan pembelian. “Di era digital, kualitas harus dibuktikan. Konsumen ingin melihat proses kerja, bukan hanya klaim,” katanya. Seminar berlangsung kondusif dan interaktif. Sejumlah peserta memanfaatkan forum diskusi untuk membahas tantangan yang mereka hadapi, mulai dari pemasaran hingga membangun kepercayaan pasar. Penyelenggara menyampaikan bahwa Seminar Gaya Bisnis 2026 akan digelar secara berkelanjutan. Program ini direncanakan rutin setiap empat bulan sekali, serta dilengkapi kelas mingguan bagi pelaku usaha pemula. Melalui kegiatan ini, HAAP MEDIA dan Guyub Sablon Bantul berharap pelaku usaha konveksi dan sablon semakin siap menghadapi dinamika industri dan mampu memperkuat daya saing menuju 2026.
“Industri Wisata Siap Lari Kencang: PUTRI 2025 Satukan Pemerintah, BUMN, dan Komunitas dalam Satu Visi Besar!”
Lokalpress.id, Semarang — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) yang digelar di Syailendra Fifth Avenue, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (7/12), menghadirkan diskusi yang sangat dinamis dan penuh optimisme mengenai masa depan industri taman rekreasi dan pariwisata nasional. Menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto serta Tedi Bharata, Wakil Kepala II Badan Pengaturan BUMN, Rakernas tahun ini menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak untuk mendorong sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi unggulan Indonesia. Moderator acara adalah GKR Bendara yang memandu sesi dialog dengan Wamendagri, serta Redita Aliyah yang memoderatori diskusi dengan perwakilan BUMN. Meningkatkan Kinerja Industri dan Dampak Sosial Dalam pembahasan inti, PUTRI menegaskan fokus tahunannya: menguatkan bottom line, mendorong kinerja perusahaan taman rekreasi, sekaligus memastikan hadirnya dampak sosial nyata kepada masyarakat. Orientasi ini dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan industri wisata yang inklusif dan berbasis nilai publik. Kolaborasi untuk Kemajuan Bersama Baik Kemendagri maupun BUMN menyatakan sikap yang sama: kolaborasi harus saling menguntungkan. Tedi Bharata menegaskan bahwa BUMN siap bermitra selama program yang diajukan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. BUMN, menurutnya, sejak lama turut hadir dalam pengembangan pariwisata melalui: dukungan infrastruktur, sertifikasi, dan fasilitas keuangan. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua inisiatif harus dibingkai sebagai CSR; aspek bisnis BUMN juga harus menjadi pertimbangan. Pengusaha pariwisata didorong untuk memahami perspektif BUMN dan meyakinkan mereka dengan proposal yang jelas, terukur, dan berdaya guna. Peran PUTRI Sebagai Advisor Kebijakan Salah satu gagasan strategis yang mengemuka adalah harapan agar PUTRI dapat berperan sebagai advisor ahli di Kemendagri, khususnya pada isu-isu gastronomi, wellness tourism, dan pengelolaan destinasi. Wamendagri Bima Arya menyambut terbuka aspirasi tersebut. Namun ia menegaskan bahwa lingkup kerja Kemendagri yang luas menuntut asosiasi untuk memilih entry point yang tepat. Rekomendasi Kemendagri mencakup: memberikan masukan kebijakan untuk program-program tertentu, terlibat dalam event strategis, memperkuat jejaring melalui organisasi kepala daerah seperti Apeksi, Apkasi, dan APPSI. PUTRI didorong berfungsi efektif sebagai pressure group yang memberikan perspektif industri dalam proses pembuatan kebijakan. Penguatan Desa Wisata dan Pendekatan Partisipatif Kemendagri menggarisbawahi bahwa perkembangan desa wisata di berbagai daerah mengharuskan hadirnya konsep partisipatif yang kuat. Banyak pemangku kepentingan terlibat, pemerintah desa, komunitas, pengusaha, akademisi, sehingga tata kelola harus inklusif. Dirjen Pemerintahan Desa telah menyiapkan anggaran pelatihan bagi aparatur desa mencakup: manajemen destinasi, pemasaran wisata, digital marketing, dan pembangunan ekosistem pariwisata. Namun, instrumen hukum yang ada masih perlu disesuaikan agar sejalan dengan dinamika lapangan. Paradigma masyarakat sudah berubah; regulasi harus mengikuti. Wamendagri menegaskan bahwa meskipun pejabat dapat berganti, pelaku usaha dan komunitas harus menjaga konsistensi agar bisnis tetap berkelanjutan. Pengelolaan Destinasi: Perlu Identitas dan Konsep yang Kuat Rakernas juga menyoroti tantangan pendataan destinasi wisata yang belum akurat di daerah. Proyek wisata harus dikembangkan dengan konsep matang dan komunikasi intensif dengan budayawan, akademisi, dan komunitas sejak tahap perencanaan. Contoh kasus seperti wacana program “glow” di Kebun Raya Bogor menunjukkan pentingnya dialog sejak awal agar tidak terjadi penolakan publik. Di sisi lain, potensi wisata edukasi dan sejarah, misalnya Museum Bumi Parawira di Bogor, terbukti memiliki daya tarik besar bagi masyarakat. Diversifikasi wisata perlu terus diperluas, tidak hanya mengandalkan tren sesaat seperti wisata horor, tetapi juga: wisata edukatif, wisata inspiratif, wisata berbasis alam dan budaya, ekowisata dan wellness tourism. Komunitas lokal harus terlibat sebagai pengelola agar destinasi berdaya hidup jangka panjang.
“Launching Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026 Dorong Kolaborasi Hexa Helix untuk Ekonomi Kreatif”
Lokalpress.id, Yogyakarta — Upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif kembali digulirkan melalui Launching Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026 yang berlangsung di Jawir Creative Communal Space, Minggu (30/11/2025). Program ini mengusung tema “Merajut Ekosistem Kreatif Jogja melalui Kolaborasi Hexa Helix.” Acara peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian Otentik The Show #2. Pada kesempatan itu, OtentikLab memperkenalkan dua figur muda, Tsaqif Al Adzin Imanulloh dan Nidhana Raisa Sabikah, sebagai Icon Pertama Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026. Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Mohammad Sofyan, membuka launching tersebut dengan menyoroti pentingnya sinergi antar pihak untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Ia menilai anak muda Jogja punya potensi besar yang perlu dipertemukan dengan ruang kolaborasi. “Anak muda Jogja punya ide luar biasa. Tapi potensi ini harus dibarengi jejaring dan pendampingan. Di sinilah kolaborasi jadi kunci,” ujarnya. Penyelempangan dua ikon dilakukan oleh Mohammad Sofyan bersama Iwan Pramana, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY. Mereka berharap dua ikon tersebut mampu menjadi penghubung antara generasi muda dan peluang kreatif yang lebih luas. Program ini juga ditujukan untuk membangun model kolaborasi baru yang lebih berkelanjutan. Melibatkan pemerintah daerah, kampus, komunitas seni, startup, media, pelaku industri, hingga masyarakat, Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026 ditargetkan menjadi creative connector dan motor penggerak ekosistem kreatif sepanjang 2026. Citizen Jurnalis: Tsaqif Al Adzin Imanulloh
“Otentik The Show #2 Sukses Digelar, Pemerintah DIY Siap Kawal Ekosistem Kreatif Jogja”
Lokalpress.id, Yogyakarta — Gelaran Otentik The Show #2 berlangsung meriah di Jawir Creative Communal Space, Sabtu (30/11/2025). Acara ini menghadirkan karya dari 18 desainer dan melibatkan 42 model, yang menunjukkan besarnya potensi Jogja dalam industri mode dan kreativitas berbasis komunitas. Founder OtentikLab, Bayu Lembayung, mengatakan Yogyakarta punya kekuatan di komunitas kreatif yang tumbuh alami. Ia menilai ekosistem ini harus terus dijaga agar memberikan dampak lebih luas. “Kami ingin memastikan ruang kreatif ini terus hidup dan berkembang. Dengan dukungan dari seluruh elemen, termasuk pemerintah dan masyarakat,” ujarnya. Bayu menambahkan program Muda-Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026 membutuhkan dukungan pemerintah agar bisa berjalan maksimal. Dari pemerintah daerah, dukungan datang dari Iwan Pramana, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY. Ia menyebut acara seperti Otentik The Show penting untuk masuk dalam agenda kreatif kota karena berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kreatif. “Ini bukan cuma peragaan busana, tapi ruang tumbuh bagi pelaku kreatif. Kami terbuka untuk kerja sama lebih lanjut,” kata Iwan. Sementara itu, Mohammad Sofyan, Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, menegaskan Jogja sedang memperkuat branding sebagai Ibukota Festival dan Kota Ekonomi Kreatif. Menurutnya, kolaborasi komunitas kreatif, termasuk anak muda, sangat dibutuhkan untuk mempertegas identitas tersebut. Sepanjang acara, penonton tampak menikmati setiap tampilan karya. Beberapa pengunjung menilai penyelenggaraan tahun ini terasa lebih matang dibanding gelaran sebelumnya. Acara ini juga mendapat dukungan dari Forum Komunikasi Duta Keistimewaan DIY. Mereka menilai Otentik The Show sebagai ruang promosi identitas budaya Jogja yang dibungkus dengan pendekatan kreatif. Otentik The Show #2 menjadi salah satu bukti kuat bahwa ekosistem kreatif Yogyakarta terus berkembang. Dengan dukungan lintas sektor, ajang ini berpotensi menjadi barometer kreativitas anak muda Jogja di tahun-tahun mendatang. Citizen Jurnalis: Tsaqif Al Adzin Imanulloh
Wonderful Indonesia Wellness 2025 Tegaskan Indonesia sebagai Destinasi Wellness Berbasis Budaya Dunia
Lokalpress.id — Yogyakarta, 30 November 2025 Penutupan “Wonderful Indonesia Wellness 2025” kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat wellness berbasis budaya yang berkelas dunia. Sepanjang November 2025, rangkaian kegiatan yang digelar di Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini tidak hanya memukau wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara nyata. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dalam penutupan acara di Asram Edupark, Sleman, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Keraton Surakarta Hadiningrat dan BPPD DIY atas kolaborasi yang membawa kesuksesan besar bagi program nasional ini. “Wonderful Indonesia Wellness adalah wujud dari dua komitmen utama Kementerian Pariwisata: Pariwisata Naik Kelas dan Event by Indonesia. Keduanya menempatkan budaya sebagai ruh utama, sekaligus membuka ruang bagi pengalaman wellness yang lebih berkualitas,” ujarnya. Dua Festival Utama, Satu Semangat Nusantara Sepanjang penyelenggaraan, Wonderful Indonesia Wellness menaungi dua festival utama: 1. Royal Surakarta Wellness Festival Menghadirkan program khas Keraton Surakarta seperti Javanese Wisdom Immersion, Gending for Therapy, Royal Dance Symphony, A Holy Journey, hingga Javanese Secret Recipe, sebuah perpaduan tradisi dan kearifan Jawa yang memperkaya pengalaman penyembuhan holistik. 2. Jogja Cultural Wellness Festival Mengusung tema Harmony in Wellness, festival ini dipimpin oleh GKR Bendara dan menghadirkan sesi Healthy Food & Herbals, Eco-Friendly Living, Spiritual Wellness & Energy Healing, Natural Beauty, Family & Inner Child, serta praktik-praktik budaya yang mengakar pada harmoni hidup masyarakat Jawa. GKR Bendara menegaskan bahwa Jogja hari ini semakin matang sebagai destinasi wellness berbasis budaya. “Yang kita hadirkan bukan hanya pengalaman, tetapi perjalanan batin (meaningful journey) yang menyentuh, menyadarkan, dan menguatkan,” ungkapnya. Dampak Nyata bagi Ekonomi dan Masyarakat Penyelenggaraan di Solo–Yogyakarta berhasil mendorong pergerakan wisatawan dengan capaian lebih dari 3.700 pengunjung, serta menciptakan efek berganda bagi sektor transportasi, kuliner, akomodasi, hingga cinderamata. Event ini juga membuka ruang kerja dan pemberdayaan: 750 pekerja wellness, 140 pekerja seni, 900 pekerja event organizer, 100 UMKM lokal Dari komunitas pengrajin, pekerja seni, hingga pelaku wellness muda, semuanya merasakan manfaat langsung dari hadirnya festival ini. Penghargaan dan Kolaborasi yang Menguatkan Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Pariwisata dan BPPD DIY menerima Rekor MURI untuk penyelenggaraan Seni Menggambar Daundala Awicarita yang diikuti 300 peserta, menggabungkan seni lokal, kesadaran lingkungan, dan kesehatan mental sebagai satu kesatuan. Hadir pula sejumlah tokoh seperti KPH Yudho Nugroho, GRA Putri Purnaningrum, KRA Rizki Baruna Aji Diningrat, Andriana Wulandari, serta Direktur Mustika Ratu Kusuma Ida Anjani. Wellness Indonesia Menuju Panggung Dunia Menteri Widiyanti menutup acara dengan penuh optimisme. “Mulai hari ini, wellness Indonesia harus semakin bergema. Ini menjadi momentum untuk meletakkan Indonesia sebagai destinasi wellness yang kuat dan membanggakan. Sampai bertemu dalam Wonderful Indonesia Wellness berikutnya dengan semangat yang lebih menyala.” Staf Ahli Gubernur DIY, Sukamto, menambahkan bahwa potensi Yogyakarta tumbuh secara alami dari budaya yang selaras dengan alam. “Dengan semakin luasnya ruang kolaborasi, Yogyakarta siap menyambut setiap peluang bagi kemajuan pariwisata nasional.”
Mega Pernyataan GKR Bendara: Wellness Jogja Harus Mengakar—Bukan Gimmick!
Lokalpress.id, Yogyakarta – Malam penutupan Jogja Cultural Wellness Festival 2025 hadir sebagai ruang keheningan yang indah, sebuah malam ketika cahaya, budaya, dan manusia saling menyapa dalam keteduhan. Pada malam yang penuh makna ini, berbagai tokoh hadir memberikan dukungan bagi lahirnya gerakan wellness berbasis budaya di Yogyakarta: Ibu Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata Republik Indonesia beserta jajarannya; Bapak Gubernur DIY atau yang mewakili; Gusti Putri dari Kasunanan Kraton Solo; Bapak Budi Waljiman, Wakil Ketua DPRD DIY; Ibu Andriana Wulandari, Ketua Komisi B DPRD DIY; para pimpinan daerah se-DIY; Bapak Hafidz Asram dari Asram Edupark; Kepala Perwakilan Bank Indonesia atau yang mewakili; serta para sponsor, asosiasi pariwisata, komunitas, dan para pengunjung yang memenuhi ruang budaya ini dengan kehangatan. Acara dibuka dengan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah mempertemukan seluruh unsur masyarakat dalam satu ikhtiar bersama, merawat kembali tubuh, pikiran, jiwa, dan budaya melalui perjalanan panjang lima pekan JCWF 2025. Sambutan GKR Bendara — Refleksi Makna dan Arah Gerakan Dalam sambutannya, GKR Bendara memaknai perjalanan JCWF 2025 bukan sebagai sebuah festival semata, melainkan sebagai gerakan kebudayaan yang menghidupkan kembali warisan nilai Jawa dalam konteks kehidupan modern. Beliau mengingatkan bahwa wellness bagi masyarakat Jawa telah lama tertanam dalam filosofi kehidupan: Salarasing Urip, Wiraga, Wirama, Wirasa — keselarasan yang memadukan raga yang terawat, ritme hidup yang tertata, rasa yang peka, dan jiwa yang damai. Nilai-nilai inilah yang, menurut beliau, menjadi fondasi bagi Yogyakarta untuk membangun dirinya sebagai destinasi wellness berbasis budaya yang kuat dan berkarakter. GKR Bendara menegaskan bahwa lima pekan penyelenggaraan JCWF, dari Healthy Food & Herbals, Wellness Movement, Spiritual Wellness, Wellness Art & Craft, hingga puncak “Harmony in Wellness”, adalah hasil dari kelindan indah antara tradisi, inovasi, dan kolaborasi. Yogyakarta, dengan modal budaya yang tak ternilai, memiliki ruang besar untuk tumbuh sebagai pusat wellness yang bertumpu pada kearifan lokal namun tetap relevan bagi dunia. Beliau memberikan apresiasi mendalam kepada berbagai pihak: Kemenparekraf RI, Pemerintah Kabupaten Sleman, dinas pariwisata dan kebudayaan se-DIY, 34 fasilitator program, Didiet Hadiprasetyo Foundation, Prof Nyoman, Mustika Ratu, Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Asram Edupark, dan 33 wellness artisan yang menjadi pilar penting dalam merawat ekosistem wellness di Yogyakarta. Tahun ini JCWF menghadirkan 36 program wellness, mulai dari booth pengalaman, workshop, talkshow inspiratif, hingga program mendalam Sacred Axis Retreat, sebuah perjalanan batin yang membawa peserta pada ketenangan tubuh, kejernihan pikiran, dan kesunyian jiwa. “Hilang untuk Healing” — Makna yang Diperdalam GKR Bendara kembali mengangkat tagline JCWF: “Hilang untuk Healing.” Beliau menjelaskan bahwa dalam budaya Jawa, “menghilang sejenak” bukan berarti lari, melainkan memberi ruang bagi diri untuk pulang, pulang pada napas, pada rasa, pada inti kehidupan. Ruang wellness, karenanya, harus menjadi ruang pemulihan, bukan hanya ruang ekonomi; ruang yang memulihkan generasi muda dari tekanan hidup yang semakin kompleks. Karena itu, menurut beliau, pembangunan ekosistem wellness adalah bagian dari tanggung jawab bersama dalam mempersiapkan Generasi Emas 2045, generasi yang teguh raganya, jernih pikirannya, dan kokoh identitas budayanya. Beliau menutup sambutan dengan harapan agar gerakan wellness di Yogyakarta terus tumbuh, meluas, dan mengakar. Malam penutupan yang disertai Night Healing Music Concert bersama Kunto Aji diharapkan menjadi titik tenang, titik pulih, dan titik awal perjalanan wellness berikutnya bagi seluruh peserta. Yogyakarta sebagai Destinasi Wellness Berbasis Budaya Festival tahun ini kembali menegaskan posisi Yogyakarta sebagai destinasi wellness berbasis budaya, destinasi yang tidak hanya menghadirkan pengalaman, tetapi perjalanan jiwa. Ketika budaya, keberlanjutan, dan wellness berpadu, maka lahirlah ekosistem yang kuat, menghidupi masyarakat, dan memberi manfaat jangka panjang bagi wisatawan maupun warga Yogyakarta sendiri. Acara diakhiri dengan ungkapan terima kasih dan doa keselamatan, agar seluruh rangkaian JCWF 2025 membawa keberkahan, keteduhan, dan kekuatan baru bagi siapa pun yang pernah melangkah bersama dalam perjalanan lima pekan penuh makna ini. (Adv)
Jogja Jadi Pusat Expo 2025: Daerah Adu Potensi Investasi, Pariwisata, dan Perdagangan
lokalpress.id, Yogyakarta – PT Furindo Artha Mas kembali menggelar Indonesia Tourism & Trade Investment Expo 2025 di Jogja City Mall, 27–30 November 2025. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY, Drs. Imam Pratanadi, MT, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan promosi daerah. Mulyono, perwakilan PT Furindo Artha Mas, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang temu antara pelaku usaha dan masyarakat Yogyakarta dengan beragam potensi dari daerah lain. “Tujuan pameran ini untuk memperkenalkan produk dan potensi daerah masing-masing, baik di bidang investasi, pariwisata, maupun perdagangan,” ujarnya. Gelaran tahun ini diikuti sejumlah daerah, mulai dari Magetan, Bintan, Karimun, Tanjungpinang, Jawa Timur, Kendal, Bandung Barat, Karawang, Lahat, hingga Yogyakarta. Dari Yogyakarta sendiri, salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Komunitas Nglarisi UMKM Jogja, yang membawa produk kreatif lokal untuk memperluas pasar. Pameran empat hari ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga momentum memperkuat jejaring bisnis lintas daerah. Melalui interaksi langsung, setiap daerah berkesempatan menunjukkan daya tarik dan peluang yang bisa dikerjasamakan oleh investor maupun pelaku industri kreatif di Yogyakarta.